Rabu, 23 Desember 2009

SKRIPSI OKTOVIANUS TATOGO

ABSTRAK
Okovianus, Tatogo.


2007 Pola Pelayanan Jemaat Mula-mula Berdasarkan Kisah Para Rasul Pasal Dua Sebagai Acuan Bagi Pengembangan Gereja Misioner. Institut Filsafat Theologi dan Kepemimpinan Jaffray Jakarta: Skripsi, S.Th., 233 halaman.

Permasalahan yaitu gereja masa kini begitu sulit bertumbuh dibandingkan dengan gereja mula-mula. Mengapa gereja mula-mula berkembang beitu cepat menjangkau dunia kekafiran, untuk mengetahui lebih lanjut perlu dilakukan pengamatan terhadap fenomena yang ada pada masa gereja mula-mula berdiri. Perlu digali akar misi gereja mula-mula dengan gereja misioner gereja masa kini, apakah terkaitan atau tidak, jika ada perlu kesinambungan sejarah masa lampau dengan kenyataan saat ini.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan: (1) secara umum untuk mendapatkan pola dasar yang tepat bagi gereja masa kini dalam pelayanan, sedangkan (2) secara khusus adalah untuk mendapatkan pemahaman akan cara pelaksanaan dari pola dasar sersebut.
Metode penulisan adalah dari deskripsi pokok-pokok utama yang dikumpulkan dari penelitian atas sejumlah buku-buku kepustakaan, materi kuliah dan observasi lapangan. Batasan penulisan berkisar pada kehidupan dan pelayanan gereja mula-mula untuk diterapkan bagi gereja masa kini.
Latar belakang gereja mula-mula: Panggilan Allah yaitu mereka dipanggil dan dibina langsung oleh Tuhan Yesus. Dasar Pelayanan Gereja mula-mula yaitu Pelayanan oleh urapan Roh Kudus, berdasarkan kasih, berdasarkan doa, dan bersifat misioner. Kepemimpinan gereja mula-mula yaitu peneumatif, kolektif, dan administratif, kepribadian pemimpin yaitu hubungan dengan Allah, gereja, dan dunia. Strategi pelayanan geeja mula-mula mencakup: penginjilan dengan kuasa yaitu arti dan tujuan penginjilan, model penginjilan, dan strategi penginjilan. Pengembalaan dengan hikmat yaitu pengajaran, konseling, dan persekutuan, pengutusan sesuai dengan karunia. Hambatan bagi gereja mula-mula yaitu: Hambatan fisik, dan hambatan rohani.
Dengan demikian Gereja masa kini agar meneladani kehidupan dan pelayanan gereja mula-mula agar dapat bertumbuh secara Alkitabiah, dan gereja mula-mula dapat menginspirasi para perumus kebijakan gereja dalam meramu strategi yang tepat bagi misi gereja masa kini yang dinamis. Rekomendasi ini ditujukan bagi semua yang memiliki kerinduan untuk gereja bertumbuh dan di berkati sesuai firman Allah.


Jumlah kata : 233
Mentor : Ev. Ajan Tuai, M.Div.


KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis dipersembahkan kepada Allah Bapa, oleh kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan karya ilmia ini dengan baik. Walaupun berbagai proses pembentukan, hambatan, tantangan, dan kesulitan yang dihadapi selam mengikuti pendidikan, terus membangkitkan rasa optimisme dengan rasa sukacita dan penuh berkat. Pengalaman ini meneguhkan komitmen penulis untuk terus melayani Tuhan Allah, penyelamat manusia. Oleh sebab itu, penulis sangat menghargakan dan sampaikan terima kasih yang tak teringga kepada:
1. Pdt. Drs. Jerry Rumalatu, D.Th sebagai Rektor IFTK Jaffray Jakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk diperlengkapi di Lembaga ini.
2. Pdt. Nasokhili Giawa, M.Th sebagai Pembantu Rektor I IFTK Jaffray Jakarta atas dukungan yang diberikan selama penulis menempuh pendidikan di Lembaga ini.
3. Pdt. Magdalena Tomatala, Ph.D sebagai Pembantu Rektor II IFTK Jaffray Jakarta atas`memberikan dukungan selama penulis menempuh pendidikan di Lembaga ini.
4. Pdt. Philemon Indakray, D,Th sebagai Pembantu Rektor III IFTK Jaffray Jakarta atas memberi semangat, dukungan selama penulis menekuni pendidikan di Lembaga ini.
5. Pdt. DR. Yakob Tomatala, D.Miss sebagai Direktur Pasca Sarjana dan program Doktor IFTK Jaffray Jakarta atas`dukungan dukungan penuh yang diberikan untuk menyelesaikan progam M.Th ini.
6. Ev. Ajan Tuai sebagai mentor yang telah memberikan semangat, dukungan, , menuntun, mendoron dan bimbingan dalam penulisan ini sampai selesai.
7. Ev. Paskalinus Bustam, D.Th, Sekretariat Pascasarjana, yang menyemangati penulis selama pembuatan karya ilmia ini.
8. Ev. Ferediel Pigay, M.Th, Dekan fakultas Teologi yang selalu memberikan semangat mengoreksi khusus selama menulis karya ilmia.
9. Segenap dosen, staf dan karyawan IFTK Jaffray Jakarta, yang turut membantu penulis dalam doa dan memberi dukungan moril selama penulisan karya ilmia ini.
10. Orang Tua Yang Terkasih, Pdt. Mesak Tatogo yang selalu membantu dalam doa dan dana demi penyelesaian penulisan karya ilmia ini.
11. Ade-ade yang terkasih, Obaja Tatogo, Eslom Tatogo, Nom Tatogo, Yosafat Tatogo, dan ade-ade tiri Melince Taogo, ....... yang tak pernah berhenti mendukung dalam doa dan dana kakak dapat menyelesaikan penulisan ini.
12. Orang tua angkat Lukas Tatogo Ibu Mote Tatogo dan ade-ade ku yang saya kasihi Lin Tatogo, Mery Tatogo, Debora Tatogo, amadi Tatogo, ....keluargnya yang selalu mendukung dalam doa dan dana dalam perkuliaan agar dapat menyelesaikan dengam baik.
13. Gereja Kemah Injil di Tanah Papua Jemaat Bahtera Kedege, Alfa Pekege, Maranatha Timika dan Jemaat Edoutou Jayapura yang selalu mendoakan selama penulis kuliah di IFTK Jaffray Jakarta.
14. Sahabat-Sahabat sekaligus menjadi sprring partner dengan proses penulisan ini, yang memberikan masukan, kritikan, infomasi dan irongan moril bagi penulis. Alangkah sejati persahabatan yang telah terbina, besar harapan penulis, dalam kehendak-Nya, maka persahabatan ini dapat terus dilanjutkan sekalipun dunia akan runtuh dikemudin hari. Ayub Yogi, Sony Kayame, Eka Tomatala, Febby Mehue Susan, Deteminus Beanal, Philipus Omabak, Jery Kadepa, Mikha Gobai keluarga, Mintaris Nirigi, Pale Gwijange, Nony, Dewi Bole, Yohana Mada, ...... adalah nama-nama yang menghiasi panggung persahabatan penulis selama perkuliaan, dan masih banyak nama lain yang tak tersebutkan, namun tak mengurangi arti sebagai seorang sahabat yang sejati. Kiranya nama-nama ini akan terkena dalam ingatan penulis sepanjan hayat dikandung badan.
15. Sahabat-sahabat yang berada diluar arena pembuatan skripsi ini namun memberikan kesan baik dalam pertemuan di IfTK Jaffray Jakarta: Pdt. Simon Bunai, Ev. Stemanus Nawipa keluarga, Zebulon Muyapa, Ham Tenouye, Aten Gobay, Yulianus Anou keluarga, Pdt. Henok Nawipa keluarga, Pdt. Deki Pigome keluarga, Ev. Natainel Tatogo keluarga, Pdt. Simon Tatogo keluarga, Guru Mikha Gobay keluarga, Guru Demianus Gobai keluarga, Pdt. Yulian F Row keluarga, dll. yang berpaut dalam dukungan doa terhadap penulis.
16. Semua keluarga penulis dimanapun berada yang memberikan dukungan penuh dalam pendidikan di IFTK Jaffray Jakarta.
Kiranya Tuhan Pencipta Khalik Langit Bumi akan memberkati menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya kepada semua pihak yang membantu penulis.
Akhirnya, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan ini, namun kiranya karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya. Hanya Allah saja yang patut dipuji dan dihormati, karena dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia kemuliaan sampai selama-lamanya.


Jakarta, Januari 2008
Penulis,


Oktovianus Tatogo




BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG MASALAH

Konsep dasar dari kesaksian dan pernyataan Alkitab mengenai gereja mula-mula sebagai gereja yang berhasil dalam misi pelayanannya didunia ini merupakan sutu daya tarik untuk dipelajari oleh setiap insan yang rindu melihat pelayanan gereja masa kini berhasil, kita melihat gereja mula-mula itu setiap hari mengalami pertambahan jiwa secara pesat, sebaliknya gereja masa kini sulit bertambah. Dari uraian terebut diatas, maka dapatlah dipahami permasalahan yaitu gereja masa kini belum bertumbuh secara Alkitabiah. Semua ini tentu ada penyebabnya sehingga terjadi demikian, entah itu dari faktor pemimpinnya, metodenya, atau strateginya dan sebagainya.

B. POKOK PERMASALAHAN

1. Tujuan Umum Karya Ilmia
Tujuan umum penulisan karya ilmia ini adalah untuk mendapat pola dasar yang tepat dalam membangun gereja masa kini agar dapat bertumbuh secara Alkitabiah.
2. Tujuan Khusus Karya Ilmia
Tujuan khusus karya ilmia adalah untuk mendapatkan pemahaman akan cara pelaksanaan dari pola dasar tersebut. Dan dengan demikian apabila gereja dapat bertumbuh secara baik dan benar maka dapatlah tujuan utama tercapai yaitu nama Tuhan dipermuliakan.

C. METODE PENULISAN

Metode penulisan karya ilmia ini adalah dari pokok-pokok utama yang dikumpulkan dari penelitian atas sejumlah buku kepustakaan, bahan atau materi kuliah, dan obserfasi lapangan.

D. BATASAN PENULISAN

Batasan penulisan karya ilmia ini adalah berkisar pada kehidupan dan pelyanan gereja mula-mula untuk diterapkan bagi gereja masa kini. Adapun kehidupam dan pelayanan gereja mula-mula yang dimaksud adalah tentang pengertian gereja mula-mula, dasar pelayanan, kepemimpinan, strategi dan hambatan serta kesimpulan.
Semua hal-hal sersebut diatas, dipadukan dalam batas penulisan sesuai dengan judul yaitu: POLA PELAYANAN GEREJA MULA-MULA BERDASARKAN KISAH PARA RASUL PASAL DUA SEBAGAI ACUAN BAGI PENGEMBANGAN GEREJA MISIONER GEREJA KEMAH INJIL JEMAAT EDOUTOU DI TANAH PAPUA. Penulis menyoroti gereja mula-mula itu mulai dari kelahirannya sampai kepada pengutusannya, dalam hal ini penulis mendapatkan sumber utama dalam Kisah Para Rasul secara keseluruhan.









BAB II
LATAR BELAKANG GEREJA MULA-MULA

A. PENGERTIAN GEREJA MULA-MULA
Gereja mula-mula yang dimaksud disini ialah gereja yang dilahir oleh anugera Allah Bapa melalui kematian dan kebangkitan Yesus kristus serta dipenuhi oleh Allah Roh Kudus dengan intinya adalah dua belas rasul yang di mulai dari penginjilan sampai dengan pengutusan.
1. Penolakan bangsa Israel
Sejarah tercipta gereja mula-mula, telah dirancang oleh Allah sejak kekekalan. Rancangan kekekalan Allah di sini menjadi lebih jelas dengan fakta penolakan bangsa Israel terhadap Yesus Kristus, jadi ini berarti bahwa seandainyapun bangsa Israel menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatnya, maka gereja akan tetap tercipta karena rancangan Allah ada dalam kekekalan. Israel sebagai bangsa pilihan Allah seharusnya menjai bangsa yang berbahagia, namum mereka telah menolak anugera Allah melalui Yesus Kristus sebagaimana dinyatakan Yohanes ”Ia datang kepada milik kepunyaanya” tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak meneriman-Nya (Yohanes 1:11).
Allah mencari umat-Nya.
2. Panggilan Allah
Setelah memahami latar belakang gereja mula-mula maka dapatlah dipahami bahwa panggilan kepada kedua belas rasul, dan apa bila mempelajari panggilan Allah suatu anugera bagi mereka yang dipanggil, kedua belas murid adalah orang-orang yang sederhana, masih banyak orang yang lebih pintar lebih hebat dari mereka namun tidak terpanggil. Kita bersyukur karena adanya panggilan Allah jika tidak demikian maka tidak ada gereja Tuhan, ini berarti tidak ada keselamatan bagi manusia.
Panggilan Allah ini memiliki dua unsur penting, yaitu mereka yang dipanggil dan dibina langsung oleh Yesus Kristus yaitu:
1. Mereka dipanggil oleh Yesus Kristus.
Buktinya bahwa Yesus Kristus sendiri telah memanggil kedua belasmurid itu secara langsung sebagai mana pernyataan Injil Yohanes: ”Bukan kamu yang memilih Aku tetapi Akulah yang memili kamu” (Yohanes 15:16). Kenyataan terebut ini dapat dimengerti bahwa pemimpin gereja memiliki wewenang untuk mengangkat atau memilih majelis gereja untuk membantu mensukseskan pelayanan gereja Tuhan.
Dalam konteks murid-murid dipanggil langsung oleh Yesus Kristus, ada beberapa teladan yang dapat diambil oleh gereja masa kini antara lain: Mereka tidak menawarkan diri dalam alasan apapun misalnya, sibuk cape, susah dan lain sebagainya, tapi mereka meninggalkan pekerjaannya dan mereka setia ikut perintah-Nya, berarti bahwa mereka tidak berambisi untuk mengangkat diri, Yesus Kristus sendiri yang memanggil dan memilih mereka (Yohanes 15:16). Sesungguhnya jabatan gereja bukan tempat untuk mencari tempat keuntungan harta atau kehormatan, melaingkan justru lebih merupakan suatu pengabdian yang menuntut pengorbanan atas dasar iman dan kasih. Pelayanan gereja itu Kudus oleh karena itu menanganipun juga kudus. Gereja mula-mula telah memberikan teladan tentang hal ini bagi pelayanan gereja masa kini.
Gereja-gereja masa kini sering terjadi perpecahan ini terjadi karena ambisi yang salah, seharusnya dalam pelayan Tuhan menyadari bahwa pelayanan gereja itu semaa-mata untuk memuliakan Tuhan dan mengembangkan pekerjaan-Nya.
a. Mereka sibuk bekerja (Mat 4:18-22, 9:9).
Murid-murid yang dipanggil dan dipilih itu berasal dari berbagai latar belakang profesi, ada yang dari nelayan, dari tukang pajak, dari kaum sederhana sampai dengan kaum terpelajar, kenyataan ini membuktikan bahwa Pekerjaan Allah tidak bergantung pada kehebatan manusia. Mereka yang dipanggil itu bukan karena mereka nangur, karena tidak punya pekerjaan tetapi mereka rela mengikut Yesus untuk melayani.
Contoh: Petrus dan kawan kawan sedang sibuk untuk menangkap ikan, Matius sedang sibuk bekerja dikantor pajak. Pekerjaan Tuhan itu tidak gampan memang membutuhkan orang-orang yang rajin dan senang bekerja.
a. Mereka Segera meninggalkan pekerjaan.
Ketika murid-murid itu dipanggil oleh Yesus, mereka segera meninggalkan pekerjaannya untuk mengikut Yesus, hal yang menarik dalam bagian ini ”mereka tidak tawar menawar ” dalam alasan apapun.
Bekerja buat Tuhan, tidak perlu kwatir karena Tuhan memberikan jaminan hidup bagi mereka yang sungguh-sunggu melayani pekerjaan-Nya. Dalam Alkitab menyatakan bahwa orang yang mengabarkan berita damai dan kabar baik itu betapa indahnya kaki orang itu (Yesaya 52:7). Bagi setiap orang yang bekerja melayani Tuhan sepenuh waktu bukan sambil, Tuhan peligara dia dalam hidupnya.
2. Mereka dibina Langsung oleh Yesus Kristus
Tuhan Yesus membawa langsung ke pelayanan, mereka mengalami banyak tantangan mulai dari tantangan angin badai sampai kepada di benci, dimarahi orang, tidak ada makanan sampai kepada mujizat dan sebagainya, ini semua merupakan pengalaman berharga yang sangat bermanfaat bagi mereka untuk bekal dalam pelayanan.
Selama 3,5 tahun Yesus membina mereka ini menyangkut kwalitas setelah pembinaan maka sampailah keberhasilan murid dalam pelayanan. Ini adalah teladang Yesus Kristus kepada gereja-gereja pada masa kini supaya calong pemimpin pelayanan kedepan harus membina mendidik melati dengan baik baik sesuai dengan Alkitabiah supaya penerus generasi pemimpin kedepan lebih baik lagi dari kemarin, pembinaan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya yaitu pembinaan fisik, mental, rohani dan kebersamaan atau kesatuan persatuan di dalam pelayanan itu sendiri.
1. Pembinaan Fisik
Cara yang Yesus buat untuk melati atau membina secara fisik yaitu: mereka berjalan kaki jauh-jauh dari desa ke desa lain, dari kota ke kota lain. Fisik yang kuat memang bukan syarat mutlak untuk dapat melayani tetapi ini merupakan sarana yang baik bagi pelayanan, kalau fisik lemah pelayananpun juga ikut lemah fisik kuat pelayanan pun juga lebih kuat, jadi seorang pemimpin atau seorang pelayan harus menjagi fisik kita.
a. Pembinaan Mental
Latihan mental ini ada hubungan atau berkaitan dengan fisik, Yesus melatih mereka untuk menahan lapar (puasa), disiplin, serta tidak menyerah kepada keadaan yang sulit, mereka diolok dan dibenci, hal-hal ini semua dihadapi dengan penuh kesabaran. Tuhan Yesus membina murid-murid-Nya sampai mental terlatih dengan baik, mereka terus memiliki mental yang tabah dalam segalah situasi, mereka hanya punya satu pilihan yaitu berhasil dalam pelayanan yang Tuhan sudah di percayakan.
b. Pembinaan Rohani
Pembinaan rohani ini diberikan oleh Tuhan Yesus, berupa nasehat untuk tuntutan hidup seperti: berdoa, berpuasa, sabar rndah hati, dan saling tolong menolong. Murid-murid diperhadapkan banyak tantangan dalam pelayanan sehingga mereka melihat dan mengalami mujizat, ini semua sudah tentu menambah kekayaan iman. Hal-hal seperti itu disimpulkan pada satu tujuan yaitu: meninggalkan semua keinginan duniawi dan siap untuk melayani pekerjaan Tuhan dengan dasar mengasihi Tuahan serta mengasihi jiwa-jiwa. Yesus pernah berkata bahwa buanglah tabiat-tabiat yang lama, milikilah hidup baru.
c. Pembinaan Kebersamaan
Fakor penting yang Yesus buat untuk pembinaan bersama yaitu: Mereka secara langsung dapat memperaktekan bersama seperti belajar kesabaran, mereka merendahkan diri, saling mengasihi satu sama yang lain, saling tolong menolong, saling menghargai satu sama yang lain, dan sebagainya untuk mewujudkan kebersamaan itu. Gereja masa kini perlu pembinaan bersama, ini dapat diwujudkan melalui pendidikan yang memakai sistim asrama dengan memperhatikan juga kurikulum yang sesuai perkembangan zaman.
2. Pengutusan Allah
Setelah semua persiapan dan pembinaan selesai maka tibalah saatnya murid-murid di utus oleh Tuhan untuk melayani dalam pekerjaan-Nya, pengutusan Allah merupakan suatu bukti bahwa gereja itu adalah misioner, apabila ternyata gereja itu tidak mosioner maka itu berarti gereja tersebut belum Alkitabiah. Hanya pelayanan yang misioner inilah yang menggenapkan amanat Tuhan Yesus, yaiu:
”Kaena itu pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptiskanlah mereka dalam nama Bapa Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu, dan ketahuilah Aku menyertai kamu senan Tiasa sampai kepada akhir zaman Matius 28:19-20”.
Ada beberapa hal yang perlu pelajari tentang pengutusan ini yaitu:
1. Tujuan Pengutusan
Misi yang dilambang dalam pengutusan adalah pemberitaan kabar keselamatan oleh anugera Allah melalui pengorbananan Yesus Kristus, keselamatan itu hanya ada dalam Yesus Kristus, siapa yang percaya Dia beroleh hidup yang kekal, kabar baik ini disampaikan kepada semua manusia, bagi segala suku, bangsa dan bahasa. Allah mengasihi semua manusia itulah sebabnya Allah mengutus Anak-Nya kedalam dunia ini untuk menebus manusia dari dosa, sebagai pernyataan berikut:
”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal Yohanes 3:16”.

Inilah perintah atau kabar baik Allah kepada manusia, dan kabar baik ini harus sampaikan kepada semua manusia dan ini tugas yang dipercayakan kepada gereja, supaya gereja tidak boleh berdiam diri. Gereja mula-mula begitu aktif dan gentar memberitakan kabar baik ini.
2. Tntangan Pengutusan
Kenyataan gereja sering mengalami berbagai tantangan, hal ini bukan hal yang baru tetapi hal yang biasa mengenai tantangan itu karena gereja mula-mula pernah mengalami banyak tantangan. Yesus sendiri mengingatkan kepada kita supaya kita sabar dalam berbagaimacam tantangan itu. Kepala Gereja ialah Tuhan Yesus, gereja dibenci oleh dunia karena dunia tidak mengenal-Nya, sekalipun gereja ada didunia tetapi Dia berasal dari Allah. Tuhan Yesus-pun pernah dibenci oleh dunia, apa lagi gereja-Nya, Yesus berkata Aku mengutus kamu seperti domba ketengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu serdik seperti ular dan tulus sperti burung merpati (Matius 10:16).
”Cerdik seperti ular” artinya cepat terhadap situasi bahaya yang akan muncul untuk menghindarkan diri. Tulus seperti merpatti artinya memiliki karakter yang polos. Gereja mula-mula lahir ditengah-tengah dunia yang jahat akibat dosa, domba tidak sanggup melawan serigala secara fisik, oleh sebab itu gereja memiliki hikmat dan Kuasa oleh Roh Kudus.
3. Jaminan Pengutusan
Ketika mendapat pengutusan itu maka Tuhan janji beserta mereka senantiasa sampai pada kesudahan, janji-Nya itu telah terbukti, murid-murid dilengkapi dengan kuasa dan hikmat Allah, pelayanan mereka disertai dengan berbagai mujizat dan tanda, mereka menyembuhkan orang-orang yang ditimpah oleh berbagai penyakit. Sekalipun mereka mengalamu berbagai tantangan dan aniaya, namun Tuhan selalu menolong, melindungi, mereka. Rasul Paulus berkata ”jika Allah difihak kita, siapakah yang akan melawan kita” (Romah 8:31). Janji-Nya tidak pernah berubah Allah terus membuktikan janji-Nya bagi setiap gereja yang mengasihi-Nya, Gereja mula-mula telah berhasil dalam pelayanannya karena Allah membuktikan Janji-Nya itu, demikianpun janji yang sama ini senantiasa menyertai gereja pada masa kini asal sunggu-sungguh berserah dalam kehendak-Nya. Sekalipun gereja selalu mengalami hambatan dan tantangan, namun gereja terus bergerak maju karena ia ada dalam pola dan rencana Allah. Ada satu pilihan bagi umaat Tuhan yaitu tetap terus maju iring Tuhan dengan setia dan selalu hidup menurut kehendak Tuhan.














BAB III
DASAR PELAYANAN GEREJA MULA-MULA

A. PELAYANAN GEREJA MULA-MULA
Pelayanan gereja mula-mula merupakan suatu teladan gereja yang sukses. Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan, ini suatu pertumbuhan gereja yang luarbiasa. Ada beberapa hal yang mendasari pelayanan gereja mula-mula itu sukses atau berhasil yaitu: Gereja semakin hari semakin bertumbah karena Pelayanan oleh Urapan Roh Kudus, Pelayanan berdasarkan kasih, Pelayanan berdasarkan doa, Pelayanan berdasarkan misioner dan Pelayanan bagi kemuliaan Tuhan, hal-hal ini yang mendasari geeja mula-mula bisa epat bertumbuh dan berkembang. Dasar yang baik sangat menentukan faktor-faktor selanjutnya.
1. Pelayanan Oleh Urapan Roh Kudus
Salah satu bukti bahwa gereja itu misioner adalah karena Roh Kudus yang mengurapi gereja. Alkitab menyatakan bahwa Roh Kudus yang memenuhi gereja makan gereja itu adalah gereja misioner, karena gereja akan menjadi saksi bagi dunia ini. Firman Tuhan menyatkan bahwa:
”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi Kisah Para Rasul 1:8”
Ini membuktikan bahwa gereja mula-mula memiliki dasar pelayanan yang di urapi oleh Roh Kudus, seperti yang dikatakan Firman bahwa mereka mulai pelayanan setelah dipenuhi oleh Roh Kudus sebagaimana pernyataan ayat diatas. Pada waktu itu telah terjadi hari Pentakosta dimana para rasul dan umaat Tuhan yang setia dipenuhi oleh Roh Kudus (Kis 2:1-13). Pelayanan oleh urapan Roh Kudus, telah menjadi dasar yang kuat bagi gereja yang mula-mula. Ini sangat penting karena Yesus sendiri berpesan untuk tidak meninggalkan Yerusalem sebelum dipenuhi oleh Roh Kudus, jadi tanpa urapan Roh Kudus maka jangan melayani sebab pasti gagal
Seperti yang diungkapkan oleh nabi Zakaria:
Maka berbicaralah ia, katanya: "Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam Zakaria 4:6.

Peranan Roh Kudus sangat penting bagi gereja misioner pada saat ini, Yesus sudah naik kesorga tetapi Yesus mengutus oleh Roh Kudus menolong, menyertai jemaat-Nya, oleh sebab itu kita mengasihi Roh Hudus sama sepertu kita mengasihi Bapa dan Anak, Roh Kudus adalah Allah yang sedang menuntun, memimpin, menolong, dan memberi hikmat, memberi kuasa, memberi hiburan, pembaharuan, dan penyuci kita di saat ini.
B. Pelayanan Berdasarkan Kasih
Pelayanan berdasarkan kasih juga menjadi dasar bagi pelayanan gereja mula-mula (Kis 2:42, 4:33). Pelayanan tanpa disadari kasih, merupakan suatu pelayanan yang sia-sia semuanya terasa hampar, apa artinya jika pelayanan tidak didasarkan kasih? Tanpa kasih, semuanya sia-sia, kata firman Tuhan:

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku (I Korintus 13:3).

Gereja mula-mula sangat menyadari pentingnya kasih itu dalam pelayanan. Kasih kepada Allah, harus juga dibuktikan kepada sesama, melayani karena bukan ingin dipuji orang, bukan karena mau mencari untung, dan bukan pula karena terpaksa, ini yang Allah sangat berkenan. Pelayanan berdasarkan kasih yang telah diterapkan oleh gereja mula-mula,diarahkan pada 2 jalur, yaitu: Kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia.
a. Kasih kepeda Allah
Allah tidak suka suatu pelayanan yang dikerjakan hanya karena terpaksa. Sebagai pemilik gereja maka Allah dapat memakai siapapun dia yang dikehendaki-Nya. Mengasihi Allah, sesungguhnya karena Allah telah mengasihi terlebih dahulu, kasih-Nya tidak terukur, begitu besar kasih Allah kepada manusia. Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. (Yohanes 14:15).
b. Kasih kepada Manusia
Pelayanan terhadap sesama, bagaimana mungkin kita mengasihi Allah, jika kita tidak mengasihi sesama, kita harus buktikan kasih itu kepada sesama. Mamang tidak muda untuk dapat mengasihi sesama yang tidak ada hubungan kepentingan dengan si pelayan Tuhan itu sendiri, tetapi syukurlah Roh Kudus memberikan kemampuan, barang siapa tidak mengasihi kasih maka ia bukan umaat-Nya, karena Allah itu kasih adanya.


C. Pelayanan Berdasarkan Doa
Gereja mula-mula menjadikan doa sebagai bagian yang tak terpisah dalam pelayanan (Kis 2:42), mereka sangat menyadari akan pentingnya doa itu. Yesus sendiri mementingkan doa dalam pelayanan ketika berada dalam bumi ini, apa lagi kita manusia yang melayani. Dalam bagian ini, dirinci beberapa pokok doa itu antara lain adalah:
1. Apa arti doa itu
2. Apakah kuasa doa itu
3. Apakah bentuk kuasa doa itu
4. Apakah Doa Permohonan itu
5. Apa itu Doa Syafat
6. Apa itu Doa Penyembuhan
7. Apa itu Kegiatan doa
8. Doa Perolangan
9. Doa Kelompok
10. Doa Umum
D. Pelayanan Bersifat Misioner.
Pelayanan gereja mula-mula bersifat misioner, baik kedalam maupun keluar, kedalam yaitu dengan cara memfungsikan serta mengkorban karunia-karunia yang ada dalam jemaat, misalnya pelayanan diakonia, pelayanan doa, pelayanan sarana gereja dan sebagainya (Kis 6:1-7). Sedangkan misioner keluar yaitu pelayanan diluar gereja, misalnya membuka pos-pos penginjilan di negeri atau negara lain (Kis 8:4-5).
Sifat misioner inilah yang telah merupakan salah satu dasar sukses dari pelayanan gereja mula-mula. Pelayanan itu tidak hanya bertumbuh pada sipemimpin, tetapi semua jemaat aktif melayani serua karunia mereka, dan demikian pula, mereka pergi kenegeri lain untuk bersaksi tentang Kristus sehingga banyak jiwa dimenangkan lalu mereka membangun gereja-gereja baru, jika gereja hanya pasif bersifat menunggu datang jiwa-jiwanya sendiri maka gereja tidak bertumbuh secara Alkitabiah.
Amanat Yesus Kristus merupakan suatu amanat yang hakekatnya adalah bersifat misioner. Yesus Kristus menyuruh untuk “pergi” kata ini berarti suatu tindakan aktif untuk bergerak dan keluar dari tempat keberadaannya, jadi jelas artinya bahwa gereja aktif bergerak keluar untuk mencari jiwa yang masih terhilang. Diatas telah disebutkan bahwa pelayanan gereja mula-mula bersifat misioner, baik kedalam maupun keluar.
1. Pelayanan Misioner Kedalam
Gereja adalah “tubuh Kristus” dimana tubuh itu terdiri dari berbagai anggota, yang masing-masing mempunyai fungsi, kehilangan atau tidak berfungsi salah satu anggota tubuh itu sendiri maka tubuh itu sendiri tidak sempurna, walaupun kecil apapun fungsinya setiap anggota saling melengkapi. Gereja tidak akan maju kalau hanya pemimpin yang melayani itu lah sebabnya, gereja itu adalah misioner yang artinya pekerjaan oleh semua umaat Tuhan.
Gereja mula-mula memfungsikan dan mengorbangkan semua karunia, dimana setiap anggota gereja aktif melani (Kis 6:1-7), Firman Tuhan telah menasehatkan agar karunia itu dikobarkan dan dipergunakan: “Karena itulah Kuperintahkan engkau untuk mengabarkan Injil kerunia yang ada padamu II Timotius 1:6”. Dan jangan lalai dalam pergaulan karunia yang ada padamu (I Timotius 4:14). Gereja yang aktif mempergunakan karunia Roh Kudus akan semakin bertambah dan bertumbuh dengan sehat serta semakin diberkati dalam pelayanan.
2. Pelayanan Misioner Keluar
Gereja mula-mula harus aktif keluar untuk mencari jiwa-jiwa, mereka tidak hanya terikat pada mimbar ataupu dalam salah tatu ruangan atau salah satu tempat saja tetapi mereka keluar mendatangi jiwa-jiwa Kisah Para Rasul 8:4-5.
Kesalahan besar yang dibuat pada gereja masa kini ialah hanya bersikap menunggu jiwa-jiwa datang sendiri. Jiwa tidak mungkin datang sendiri karena sudah hilan dalam dosa, terikat oleh dosa atau tertutup dalam dosa mata rohani mereka. Pemimpin gereja harus merancang pelayanan yang menjangkau keluar, mendirikan pos-pos pelayanan baru, tidak hanya terpaku pada satu negeri, rasul-rasul di zaman gereja mula-mula mereka aktif pergi ke negeri lain untuk memenangkan jiwa.
E. Pelayanan Bagi Kemuliaan Tuhan
Pelayanan yang tidak memuliakan Tuahan Pasti gagal, ia tidak bertahan, walaupun dia mengunakan sarana yang canggih atau metode yang paling modern sekalipun, tak akan ada gunanya apa bila tidak memuliakan Tuhan, hal ini juga sangat disadari oleh gereja mula-mula, sehingga mereka juga mendasarkan pelayanan bagi kemuliaan Tuhan (Kisah Para Rasul 2:47).
1. Kemuliaan yang Salah
Iblis selalu berusaha membelokkan kearah yang salah setiap tujuan pelayanan gereja, oleh sebab itu, bila gereja melangkah maka akan terjebak, apa bila mereka sudah berhasil dalam pelayanan, pelayanan yang salah itu terjadi apa bila kemuliaan ditujukan kepada manusia atau organisasi memang manusia dan organisasi terkait dalam pelayanan tetapi bukan karena manusia dan organisasi sehingga pelayanan itu sukses.
a. Organisasi
Organisasi bagi gereja, memang masih dibutuhkan dalam dunia ini yaitu: Pertama, sebagai sarana tanggung jawab secara hukum pada negara, dan Kedua, sebagai sarana untuk pengenalan identitas dan sekali sekaligus membentangi diri dari pengajaran-pengajaran sesat. Seharusnya organisasi tidak boleh berlebihan, kalau hal ini terjadi maka organisasi akan dilakukan dan akhirnya sering menimbulkan fanatisme negatif, sehingga dengan demikian dapat menghambat pelayanan entah sadar atau tidak sadar akan berambisi denagan segala cara untuk dapat menjadi pemimpin organisasi, denagan demikian timbullah perpecahan dan ketidak harmonisan dalam hubungan kerja dan sebagainya................. Gereja dipanggil dan di utus, bukan untuk melayani organisasi melaingkan melayani jiwa-jiwa, organisasi hanya sekeder sarana bukan menjadi tujuan, menjadikan organisasi sebagai tujuan dalam pelayanan, adalah kemuliaan yang salah.
b. Manusia
Kalau pelayanan berhasil maka pujian bisa datang dari manamana maka gereja harus waspada dalam hal ini, gereja mula-mula menyadari dalam hal ini, Petrus sebagai rasul gereja mula-mula dengan tegas menyatakan kepada orang-orang di zamannya itu bahwa keberhasilan mereka, bukan karena mereka melainkan Yesus Kristus –lah yang menolong mereka Kisah Parah Rasul 3:12.
Manusia yang telah lupa diri akhirnya menjadi sombong, inilah pangkal dari kejatuhan dan pelayanan itu hancur, tidak lagi diberkati oleh Tuhan, kemuliaan telah salah diarahkan, pelayanan untuk mencari popularitas pribadi, ini adalah kemuliaan yang salah arah.
2. Kemuliaan Yang Benar
Pelayanan yang mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan, adalah pelayanan yang betul, inilah yang pelayanan yang diberkati, ingatlah perkataan Tuhan Yesus ’kami hanya hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan, (Lukas 17:10). Jadi pelayanan yang benar adalah pelayanan yang mengarahkan kemuliaan itu bagi Allah dengan pekerjaan-Nya.
a. Allah
Karena Allah kita bisa berhasil dalam pelayanan, jika bukan Allah yang memakai atau menyertai dalam pelayanan maka tentu sia-sia adanya, oleh sebab itu kemuliaan itu dari Dia dan bagi Allah, Allah yang dipuji dan di sembah dalam pelayanan sehingga pelayanan semakin hari semakin bertambah besar berhasil dan diberkati oleh Allah sendiri.
b. Pekerjaan-Nya
Pekerjaan-Nya tidak terlepas dari pribadi Allah sendiri, jika pekerjaan-Nya dimuliakan maka peribadi Allah pun dimuliakan karena Allah sendiri berada dalam pekerjaan-Nya, Nama Allah itu jaminan dalam pelayanan. Pekerjaan-Nya telah dipercayakan pada gereja, yaitu untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Allah dan menjadikan jiwa-jiwa itu penyembah Allah dengan tulus dan kasih.
Demikianlah dasar-dasar jemaat mula-mula sehingga telah membuat pelayanan berhasil dan diberkati oleh Tuhan. Mereka menjadikan urapan Roh Kudus itu sangat berperan, kasih itu penting, doa diutamakan, pengkobaran karunia-karunia di aktifkan, dan semua keberhasilan semata-mata ditujukan bagi kemuliaan Tuhan, dengan dasar yang baik dan benar maka sesungguhnya pekerjaan pelayanan itu telah separuh selesai. Bagaimana dengan rumah yang dibangun diatas batu yang kuat maka ia akan tetap kokoh berdiri walaupun dilanda oleh banjir dan angin (Matius 7:24-25). Inilah dasar pelayanan gereja mula-mula, yang dapat menjadi teladang bagi gereja masa kini. Jika dasar hanya itu hanya bagaikan dibangun diatas pasir maka pelayanan itu tidak akan dapat bertahan, Firman Tuhan mengatakan: ”Bukan dengan keperkataan dan bukan denagan kekuatan, melainkan roh-Ku, Firman Tuhan semesta alam” (Zakaria 4:6).













BAB IV
KEPEMIMPINAN GEREJA MULA-MULA

Dalam sebuah organi sasi, apakah itu organisasi duniawi
Ataukah gerejawi, maka kepemimpinan ikut memegan perana dalam keberhasilan mencapai tujuan.
Pekerjaan pelayanan gereja, terdiridari banyak bidang tugas sehingga hal ini mengaitkan banyak Orang. Oleh kerena itu membutukan suatu kepemimpina. Pentinya kepemimpinan yang baikbagi gereja, jalas merupakan suatu kabutuhan sebagai mana terungkap dalam Firman keselamatan ada” (Amsal 11:14).
Kepemimpinan gereja mula-mula telah dijalangkan dengan cara-cara yang rohani, sesuai Alkitab. Hal ini terlihat pada sifat kepemimpinan dan keperibadian pemimpin.

Sifat yang kepemimpinan.
Kepemimpinan gereja mula-mula memiliki sifat yang di polakan pada Alkitab. Mereka menetapkan aturan-aturan, bukan pada kehendak manusia malaikan pada hendak Firman-Nya, sehingga Roh kudus menyertai pelayanan mereka senantiasa.
Adapun sifat kepemimpinan gereja mula-mula adalah: pneumatif, kolektif, dan administratif. Ketika sifat ini telah di sebutka sebelumnya bahwa sifat-sifat itu dipolakan pada firman Allah. Hanya berpolah pada firman Allah maka sifat kepemimpinan itu dapat berjalan dengan baik dan diberkati.

Pneumatif.
Kata Pneumatif asal kata pneuma, yang digunakan untuk kata roh, yang berarti; angin atau nafas. Jadi sifat kepemimpinan Pneumatif adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kehendak Roh kudus, dimana setiap perencanaan dan pengambilang keputusan, terlebih dahulu digumulkan dalam doa untuk memohan dan mendapatkan petunjuk dari roh kudus .
Dalam kepemimpinan gereja mula-mula, mereka menerapkan pentingnya roh kudus berperan. Oleh sebab itu mereka sangat peka terhadap Roh kudus. Mereka menguji segala sesuatu apakah hal itu dari Roh kudus atau bukan (pd. KR. 13:2, 16:6-7, 20:22).

Kolektif.
Roda kepemimpinan gereja mula-mula bersifat kolektif, yaitu semua bertanggung- jawab melayani sesuai karunia Roh kudus. Keduabelas rasul memimpin dan membagi tanggung- jawab secara bersama. Semuanya di organisir sedemikian rupa dengan menempatkan diri mereka pada badang tugas yang sesuai karunia mereka. Dan oleh karena kepemimpinan gereja mula-mula berjalan dengan baik karena mereka saling memberi kepercayaan dan adanya interitas serta tanggung-jawan yang besar yang di perhadapkan pada Allah. Tidak terlihat adanya ambisi perorangan yang negatif kerena sebelum sifat itu telah di proses oleh

Tuhan Yesus.
Jika pimpinan gereja bersifat kolektif, hal itu memang merupakan suatu keharusan. Sebab adalah sangatriskan apabila kepemimpinan gereja hanya bergantung pada satu Orang. Keselamatan orang banyak, tidak dapat dipetaruhkan hanya pada kepemimpinan seorang amanusia. Rektor STT JAFFRAY Ujung pandang, Peter anggu mengungkapkan :
Falsafahn kepemimpinan gereja bersifat jamak, yang didasari unsur kepercaayan termasuk dalam memberikan wewenan kwpada orang lain.5

Administratif.
Salah satu kelemahan gereja adalah tidak adanya administrasi yang baik. Pada hal administrasi yang baik merupakan keharusan dalam mengelola pelayanan. Semua perencanaan, data-data yang perlukan, pemgaturan tugas, pembinaan jawa baru, yang sakit, yang lemah, dan sebagainya, supaya ditata dengan rapi agar memudakan mengigatnya dan
melaksanakannya. Rektor IFTK JAFFRAY Jakarta, Y. Tomatala, berkata :

Administrasi sangat berkaitan dengan kepemimpinan dan mana jemen,dimana ketiganya merupakan satu kesatuanya yang tidak terpisakan 6)
Jadi administrasi yang baik, di perlukan dalam kepemimpinan gereja. Hal ini di sadari oleh gereja mula-mula dimana mereka juga memanfaatkan administrasi sebagai manadiungkapkan dalam pernyataan firman-Nya bahwa “yang percaya dibaptis, dan jumlah mereka dihitung” (bd. KR. 2:41)

Kepribadian Pemimpin.
Pribadian seorang pemimpin sangat berpengaruh bagi orang yang ia pimpin dan bagi pekerjaan itu sendiri. Sebagai seorang pemimpin gereja maka harus memiliki kristeria Alkitab agar kepemimpinannya berjalan sesuai Alkitab.
Memimpin gereja pada dasarnya sebetulnya tidak sulit, karena tela ada petunjuk –petunjuk oleh firman Allah. Masalanya sekarang adalah bagai mana sifat dan karakter si pemimpin itu. Syarat utama bagi seorang pemempin gereja, sesunggunya bukanlah yang pintar melaikan yang takut akan Tuhan. Firman Tihan berkata bahwa sukses itu bukan oleh kuat dan gagah manusia (pd. Zakaria 4:6).

Keperibadian pemimpin gereja mula-mula
tercermin dalam cara hidup mereka (KR 2:41-47) dan cara pelayanan mereka (KR 3-28). Jika menkaji cara hidup dan carapelayanan gereja mula-mula, maka dapatlah disimpulkan keperibadian pemimpinmereka adalah: Penuh Roh kudus, Teruji, dan Terpuji.
Ketiga hal tersebut diatas, dapat dirinci sebagai berikut : (1) Hubungan pemimpin dengan Allah; penekana
utamanya adalah penuh Roh kudus .
Hubungan pemimpin dengagereja; penekanan
utama nya adalah teruji.
Hubungan pemimpin dengan dunia; penekanan
utama nya adalah terpuji.
Hal-hal inilah yang menjadi keperibadian pemimpin gereja mula, dimana hal tersebut berpola pada firman-Nya.

Hubungan denga Allah.
Unsur utama yang menentukan karakter seorang
pemimpin yang baik dalam bagimana hubungannya denganAllah. Jika hubungannya dengan Allah baik maka baik juga karakternya.
Ukuran “kehebatan” seorang pemimpin gereja bukan terletak pada kepintarannya atau pengalamanya semata-mata melaikan terletak pada beberapa dekatnyaia dengan Allah seorang pemimpin gereja yang pintar sekalipun tetapi jika tidak takut akan Allah, maka justru kepintarannya itu hanya digunakan bagi kepentingan pribadi.
Seorang pemimpin dalam hubungannya dengan Allah, memiliki: Penuh Roh kudus, takut akan Allah, mengasihi Allah, memiliki iman, gemar berdoa, dan gemar dengan firman-Nya. Inti dari hubungan ini adalah penuh Roh kudus. Jika ia memang penuh Roh kudus maka hal-hal yang sudah di sebutkan diatas tentu menjadi sifat si pemimpin itu.

Hubungan dengan gereja.
Kunci atau penekanan hubungan pemimpin dengan gereja, telah disimpulkan sebelumnya yaitu teruji. Ia memiliki hal-hal sebagai berikut: cakap mengajar diri sendiri, cakap mengajar orang lain, dan loyal terhadap gereja. Jika pemimpin memiliki ketiga hal diatas, maka berarti ia telah teruji sebagai pemimpin gereja, karena memilikikemampuan seperti tersebut di atas.

Cakap pengajar diri sendiri.
Hal ini berarti dapat mengen dalikan diri sendiri. Jika pemimpin tidak dapat mengendalikandiri sendiri, tentu tidak dapat mengendalikan orang lain. Ini ibarat orang buta dipimpin oleh sebuta.
Orang yang dapat mengendalikan diri berarti ia adalah: perama bukan peramah, menhargai pendapat orang lain menjawab dengan sopan dan baik, rendah hati, serta jujur dan benci pada suap.

b. Cakap mengajar Orang lain.
Pemimpin juga harus dapat mengajar orang yang dipimpinnya. Untk itu ia perlu hikmat dan wibawah, karena kedua hal ini menunjang perannya untuk mengajar. Berhikmat artinya memiliki pengetahuan dan pengertian. Ini semua didapat kerena suka belajar dan peka kepada Roh kudus yang adalah sumber hikmat. Sedangkan berwibawah artinya memiiki karisma dan prinsip idealisme yang brasal dari Roh kudus sehingga ia tidak goyah terhadap dunia ini. Dengan demikian lampu di segani dan dihormati oleh Orang-orang yang di pimpinnya.

Pemimpin yang memiliki hikmat dan wibawa, sangat berdaya guna dalam
pelayanan. Ia memiliki pengaruh yang kuat dan berakar pada mereka yang dipimpinnya, sehingga ucapannya diperhatikan dan diturut.

c. Loyal terhadap gereja.
Pemimpin yang loyal terhadap gereja, sangatmenunjang keberhasilan pelayanan.ungkapan terhadapgereja mula-mula bahwa meeka tiap hari digereja, membuktikan bahwa mereka loyal terhadap gereja ( bd. KR 1 :46). Sifst loyal seorang pemimpin memiliki ciri-ciri gemar melayani, rela berkorban, dengar-dengaran kepada atasanyang lebih tinggi, setia dan bertanggung jawab.

3. Hubungan dengan dunia / masyarakat
Kunci dalam hubungan ini adalah pemimpin menjadi orangyang terpuji dalam masyarakat. Ia dikenal secara baik sehingga kepemimpinan efektif.
Pemimpin itu pandai bergaul, memanfaatkan setiap kesempatanuntuk berbuat baik
serta memiliki humor yangsejat sebagai pelancar pergaula. Ada 3 hal untuk pemimpin dalamhubungannya dengan masyarakat: memiliki nama baik memiliki beban bagi jiwa-jiwa untuk diselamatkan, dan memiliki kesehatan yangbaik
a. Memiliki nama baik.
Alkitab memberikan pernyataan akan pentingnya nama baik, seperti berikut ini: “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas” (Amsal 22 :1 ).

Ciri-ciri darinama baikadalah suatu pembawaan hidupyang sederhana, berpada dengan apa yang ada, serta hidupmenurut firman-Nya. Hal-hal tersebut adalah : tidak kawi cerai, dapat memimpinkeluarganya dengan baik, renda hati, tidak pemabuk, tidak berusa kesana kemari, sukamenolong, dan remah.
Gereja mula-mula “disukai semua orang”, membuktikan mereka memiliki nama
baik dalammasyarakat (bd . KR 2 : 47). Justru karena memiliki nama baik sehingga masyarakat tertarik dan baesimpati dengan mereka. Seorang hamba Tuhan, hendaknya dalam cara dan sikap hidupnya supaya dapat menarik simpati masyarakat agar tidak ada hambatan bilah kita hedak mendekati mereka.
b. Memiliki beban keselamatan bagi jiwa-jiwa.
Kerinduan bagi keselamatan jiwa-jiwa merupakan suatu motivasi yang mendorog semagat seorang pemimpin untuk selalu menjaga hubungan baiknya dengan masyarakat. Hubungan yang baik tentu memperlancarpelayanan gereja. Keridua ini hendaknya dimiliki oleh setiap pemimpin gereja. Jikatidak maka akan kehilangan sasaran yang sebenarnya karena justru inilah sasara seorag pemimpin gereja yaitu memenangkan jiwa sebanyak mugkin.
Seorang pemimpin gereja yang tidak memiliki beban bagikeselamatan jiwa-jiwa, maka
pelayanannya tidak lebih hanya untuk “bekerja cari makan”. Pekerjaan Tuhan bukamn sekedarprofesi untuk cari makan dan bukan semata-mata hanya berkaitan dengan dunia.
Memiliki beban keselamatan bagi jiwa-jiwa, akan membuat seseorag mengasihi
dan berani berkorban. Gereja mula-mula memilikisemagat ini karena mereka berbeban bagi keselamatan jiwa-jiwa. Rasul-rasul aktif menginjil, warga gereja aktif bersaksi. Pelayanan gereja memang bukan sekedar tempat pelarian kerja, atau frustrasi. Melayani pekerjaan Tuahan merupakansuatu pengabdian yang disendiri betul-betul sebagaisuatu pengorbnn atas kepentingan pribadi. Mencari keuntungan hartamaupun kehormatan dunia, bukanlah menjadi tujuan dalam pelayanan gereja. Kalau seorang pelayanan Tuhan diberkati maka puji Tuhan karena Tuhan yang punya semua berkat namun sekali lagi bahwa hal ini bukan menjaditujuan sebagaimana paham “teologi kemakmuran” yang mengajar menjadi hamba Tuhan berarti menjadi orang kaya (harta dunia).
c. Memilikikesehatan yag baik.
Pemimpin juga harus menjaga kesehatannya yang baik. Walaupun hal ini bukan syarat
Mutlak bagi pelayanannya untuk berhasil tetapi akan lebih berhasil apabila ia memiliki kesehatan yang baik. Bagai mana mingkin seorang pelayanan Tuhan dapat bersaksi tentang kuasa Tuhan kalau ia sendiri sakit-sakitan ? Tuhantelah menebus dosa kita dan sekaligus mengangkat segala pengakit karenna bilur-bilur-Nya menjadikan kita sembuh (bd . Yesaya 53 : 1 - 7)
Senam, bukan tidak ada gunaya. Memag bila halitu dibadigkan dengan nilai ibada, tentu nya sedikit gunaya apapun didunia ini, termasuk uang sekalipun, jikadibandingkan dengan ibadah, tentu sedikit nilainya. Namun itu semuabukannya tidak diperluka (bd. I Tim 4:8).
Hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan ialah: senam yang teratur, makan yang pas dan teratur, (Amsal 23 : 2), serta hatiyang selalu bersyukur sehingga tidak habisan suka cita.
Sering penyakit mengganggu tubuh manusia, pada hakekatnya karenatidak di penuhinya ketiga unsur tersebut. Malas bergerak, makan berlebih-lebihan (atau kurang makan), dan hati selalu bersungut sehinya tidak ada kesukaan maka akibatnya tress melalui.
Kalau Tuhan Yesus telah disalibkan adalah juga untuk mengangkat segala penyakit dan
penderitaan yang menimpa umat-Nya maka ini berarti bahwa kesehatan tubuh itu juga perlu. Jadilah biaksana, termasuk dalam menjaga kesehatan yang baik bagitubuh karena tubuh yang baik dan sehat adalah juga sarana untuk melayani pekerjaan Tuhan.
Rangkuman.
Kepemimpinan gereja memiliki pola yang tidak sama dengan dunia, karena kepemimpinannya bersifat suka rela dan yang dipimpin juga adalah orang-orang suka rela. Seorang pemimpin gereja hendaknya memiliki sifat-sifat sesuai firman-Nya sertapeka pada kehendak Roh kudu. Ia harusdapat mengajar dirinya sendiri serta dapat mengajar uamt yang ia layani. Untuk itu ia memilki nama baik dan memiliki beban keselamatan bagi jiwa-jiwa, sertamenjaga kesehatanya dengan baik.




















BAB V
STRATEGI PELAYANAN GEREJA MULA-MULA
Mempelajari arti kata “Strategi” Menurut petunjuk kamus populer, mempunyai arti: siasat perang atau siasat perjuangan, jadi pengertian kata strategi adalah mengacu pada perang atau perjuangan
Keberadaan gereja didunia ini erat kaitannya dengan perang atau perjuangan yaitu berperang dengan kerajaan Iblis untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa, dimana jiwa-jiwa itu dimenangkan bagi kerajaan2 sorga. Sterategi gereja dalam pelayanannya tidak dapat dilepaskan dengan rencana Allah, karena Allah sendiri sebagai pemilik serta tinggal didalam gereja-Nya (I Korintus 3:16), Sterategi pelayanan gereja telah diberikan oleh Tuhan Yesus, berupa amanat agung yaitu:
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptiskanlah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu, dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman Matius 28:19-20”.

Jika merinci amanat agung tersebut diatas maka adalah sebagai berikut:
Pertama, “Pergi” Ini suatu tindakan untuk mencari dan memenangkan jiwa, ini disebut sebagai penginjilan
Kedua, “Jadikan Murid” ini merupakan tugas pembinaan sehingga menjadi murid Tuhan Yesus, dan hal ini disebut sebagai pekerjaan ‘Pengembalaan’ hal ini terbagi dalam dua bagian yaitu:
a. Baptiskanlah Mereka, istilah ini memiliki pengertian di persekutukan Contoh: dibaptis dalam Kristus artinya dipersekutukan dengan Kristus Roma 6:3.
b. Ajarlah, hal ini disebut memberi pengajaran.
Ketiga, Lakukan perintah Tuhan, ini merupakan tugas untuk melayani, ini berarti pengutusan.
Semua hal tersebut diatas yang menyangkut amanat agung Tuhan Yesus, bila disimpulkan kembali secara ringkas adalah sebagai berikut:
a. Penginjilan dengan kuasa
b. Pengembalaan dengan hikmat, terdiri atas Persekutuan dan Pengajaran
c. Pengutusan untuk melayani, jadi Inti amanat Agung itu adalah menangkan, membina, dan mengutus untuk melayani.
A. Penginjilan dengan Kuasa.
Penginjilandengan kuasa merupakan ujung tombak bagi pelayanan gereja mula-mula, hal ini merupakan ciri khas bagi gereja misioner, dalam menjangkau jiwa-jiwa yang masih terbelenggu oleh dosa, perhatian untuk pentingnya menjangkau jiwa-jiwa melalui penginjilan, dikatakan oleh Charles G. Finney sebagai berikut:
Jika orang-orang Kristen membatasi perhatian mereka hanya pada gereja mereka sendiri, tidak melengkapi diri dengan pengetahuan tentang ladang penginjilan dan tidak melakukan apa yang diwajibkan Allah bagi mereka maka Roh Allah akan meninggalkan mereka. 8

Apabila gereja tidak menjadikan penginjilan itu sebagai salah satu program utamanya, maka gereja itu sulit bertumbuh, pelayanan gereja tidak boleh merasa puas dengan hasil yang sudah ada, sebab sikap demikian akan membatasi jiwa-jiwa yang masih belum dimenangkan. Penginjilan dengan kuasa adalah perwujudan dari salah satu tugas amanat agung Tuhan Yesus, yaitu Pergi untuk memenangkan jiwa bagi Kristus dan dalam hal ini juga merupakan perwujudan dari keberadaan gereja itu sendiri sebagai misioner, jadi gereja tidak mengutus jemaat untuk melayani maka itu bukanlah gereja yang Alkitabiah.
1. Arti dan Tujuan Penginjilan
Y. Tomatala PI
Donald A. Mcgavran, menyatakan soal penginjilan bahwa: ”Allah tidak hanya mencari tetapi Ia juga menemukan, Allah mencari sampai Ia mendapatkan”.
.........................................................................
.......................
a. Cari Sampai Ditemukan
Penginjilan itu tidak hanya sekedar asal berkhotbah, melainkan cari sampai dapat untuk menjadi murid Tuhan Yesus.
Mempelajari kasus Adam dan Hawa setelah jatuh kedalam Dosa maka tercatat dalam Alkitab Allah yang “mencari dan menemukan” mereka, demikian pula bila mengamati cara penginjilan Yesus, maka Dia juga yang mendatangi, menemukan jiwa-jiwa, cara yang sama inipun telah diperaktekkan oleh gereja mula-mula (Kisah Para Rasul 8:4). Gereja yg aktif mengempur kubu-kubu setan, dalam peperangan melawan kerajaan Iblis maka gereja mula-mula mengambil sikap menyerang, bukan bertahan, Ia terus aktif mengempur dengan cara mengadakan penginjilan yang disertai kuasa. Jiwa-jiwa dimenangkan dengan kuasa Roh Kudus, belenggu-belenggu setan diputuskan, dan segala kelicikan setan ditelanjangi, Allah menyertai gereja seperti itu gereja itu menjadi pahlawan Kristus yang gagah.
b. Cara Mencari Jiwa
Dalam Injil Lukas 15 di uraikan mengenai prinsip mencari jiwa, yaitu bagaikan mencari: domba, dirham, dan anak yang hilang, ketiga-tiganya mencari sampai dapat yaitu:

1. Mencari Domba yang hilang
Dombs itu dipanggil dengan “suara gembala” sebagai di ungkapkan dalam Yohanes 10:3,27. Suara gembala itu tidak lain tetapi hanya Firman Allah itu sendiri, jadi caranya mencari adalah dengan mengunakan Firman Allah. Tidak mudah untuk mencari domba yang hilan itu, gembala perlu memiliki kesabaran, pengorbanan, dan sebagainya untuk mendapatkan jiwa itu. Tuhan mengajarkan kita bahwa melayani atau mencari jiwa dengan gembira, bukan terpaksa.
2. Mencari Dirham Yang hilan
Dirham itu dicari dengan memakai “pelita” seperti disebutkan dalam Lukas 15:8, pelita berfungsi sebagai penerang. Jadi jiwa itu dicari dengan terang Firman Allah (Mazmur 119:105, II Petrus 1:19). Dirham itu dicari dengan cermat, mencari jiwa itu perlu cermat sebab bila tidak maka bukannya jiwa itu ‘tertangkap’ tetapi malahan menjadi anti, oleh sebab itu harus diperlu cermat.
3. Anak Yang Hilang
Lukas 15:24,32, Contoh cerita mengenai anak yang hilan, kalau anak yang hilan kembali lagi kerumah maka orang tuanya menyambut anak dengan penuh semangat. Pada umumnya pelayan Tuhan mengumuli jiwa itu dengan doa, karena doa adalah salah satu kunci untuk keberhasilan.
2. Model-Model Penginjilan
Model-model penginjilan tergantung pada situasi yang ada, ada tiga (3) model yang diterapkan oleh gereja mula-mula, yaitu: Kesaksian perorangan, Kebaktian kebangunan Rohani, dan pemanfaatan sarana sosial, semua model atau bentuk penginjilan tersebut memiliki keistimewaan masing-masing tergantung keadaan apa yang cocok dan dimana tempat pelaksanaannya.
a. Kesaksian Perolangan
Gereja mula-mula memanfaatkan model penginjilan dan juga memanfaatkan seluruh warga gereja untuk aktif bersaksi (Kis 2:38, 3:11-26, 4:1-31, 5:29-32, 7:2-53, 8:4). Model penginjilan dilakukan dengan melihat kesempatan yang baik dan tepat, sebagaimana nasehat Firman Allah: “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah aper emas dipinggan perak” (Amsal 25:11).
Tidak semua warga gereja memiliki karunia penginjilan, tetapi semua warga gereja dapat bersaksi untuk Kristus.
b. Kebaktian Kebangunan Rohani
Model penginjilan dilakukan ialah seperti, hari ulan tahun, dan peringatan hari-hari raya tertentu dan juga memiliki kesempatan tepat dalam mengadakan kebaktian kebangunan rohani (KKR) agar membawa hasil maksimal.
Pelaksanaan kebaktian kebanguna rohani dilakukan dalam ruangan gereja ataupun diluar gedung gereja dengan memanfaatkan gedung atau lokasi yang strategis, sebelum melaksanakan harus harus persiapan sebaik-baiknya dan perlu dalam pergumulan dalam doa. Carilah pembicara yang punya karunia berkhotbah dalam bidang itu. Kebaktian kebangunan rohani (KKR), pada dasarnya merupakan arena untuk mendemontrasikan kuasa Allah menghancurkan oleh kuasa Iblis, cara ini sangat efektif untuk jiwa-jiwa yang sama sekali belum kenal Tuhan mereka tentu tertarik dengan mujizat Allah. Gereja mula-mula telah memakai model penginjilan seperti ini yaitu rasul-rasul mengadakan kebaktian kebangunan Rohani (KKR), misalnya Rasul Petrus berkhotbah dihadapan ribuan orang sehingga sekali khotbah, tiga ribu (3000) orang bertobat.
c. Pemanfaatan Sarana Sosial
Menarik untuk diamati cara-cara gereja Roma Katolik dalam mendapatkan jiwa-jiwa, mereka tidak mengadakan kebaktian kebangunan rohani (KKR) dimana-mana atau sibuk bersaksi kesana kemari, tetapi setiap tahun jumlah mereka terus bertambah, mereka mendapatkan jiwa melalui sarana sosial seperti membuka sekolah, membuka panti asuhan, dan membuka atau membangun rumah sakit. Penginjilan model begini memang tidak demonstratif tetapi diam-diam ubi atau singkon berisi didalam, cepat atau lambat selalu saja pengaruh gereja akan mempengaruhi sarana-sarana sosial yang disekolah oleh gereja itu.
Kesimpulan diatas maka, jelas bahwa sarana sosial dapat memiliki potensi untuk alat memenangkan jiwa. Gereja mula-mula belum sempat memanfaatkan ini secara penuh karena situasi pada waktu itu berbedah dengan sekarang namun dari adanya pengaturan diakonia, hal ini telah mengarahkan kesana (Kis 6:1-7).
3. Strategi Penginjilan
Strategi penginjilan yang paling tepat, sangat terkait dengan pemuliaan bagi Tuhan, Yesus berkata ”dan Aku apa bila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yohanes 12:32). Menyangkut soal strategi dalam penginjilan maka ada beberapa hal yaitu: Libatkan semua warga gereja untuk bersaksi, bentuk tim Penginjilan, dan bentuk sasaran penginjilan.
a. Libatkan semua warga gereja untuk bersaksi.
Telah diuraikan sebelumnya bahwa tidak semua warga gereja memiliki karunia untuk menjadi penginjilan, tetapi semua warga gereja dapat bersaksi untuk Kristus, untuk itu semua warga gereja dilibatkan dalam pelayanan hal ini telah dibuktikan dalam jemaat mula-mula (Kisah Para Rasul 8:4). Dalam melibatkan warga gereja, pemimpin memberikan hal-hal sebagai berikut:
1. Tekankan Pentingnya kewajiban bersaksi bagi Tuhan.
Bersaksi adalah suatu kewaiban bagi setiap orang yang telah diselamatkan, Tuhan Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan, jadi setiap warga gereja harus menyadari pentingnya kewajiban untuk bersaksi bagi Kristus dan kewajiban ini tidak dikerjakan secara terpaksa melainkan karena mengasihi Tuhan dan sesama.
2. Latih dan Beri petunjuk secara Bersaksi.
Warga gereja dilatih dan diberi petunjuk tentang cara bersaksi yang baik, karena bukan asal-asal bicara kepada setiap orang, melaingkan harus melihat kesempatan yang tepat (Amsal 25:11). Cara bersaksi ini dapat dilakukan secara spontang oleh perorangan, atau juga dilakukan secara kelompok dengan telah dirancang terlebih dahulu dengan tujuan detempat-tempat seperti rumah sakit, panti asuhan, rumah kerumah dan sarana soal lainnya.


3. Berikan Target
Agar berorientasi kepada pencapaian hasil, maka sebaiknya diberikan target misalnya dalam 1 tahun setiap anggota gereja menangkap 1 jiwa baru contoh ini harus dikembangkan sesuai situasi kondisi yang ada. Gunakan memberikan target agar juga dapat diukur hasilnya, sehingga hal ini akan memberikan dorongan untuk mereka bersaksi lebih giat agar target itu tercapai.
b. Bentuk Tim Penginjilan
Pilihlah orang-orang yang punya karunia penginjilan, dengan mengkombinasikan pada mereka yang punya karunia doa, dengan demikian mereka akan saling mendukung sesuai karunia masing-masing sehingga pelayanan tim ini merupakan penginjilan dengan kuasa Allah, mujizat Allah didemonstrasikan untuk memuliakan Allah dan pekerjaan-Nya. Lengkapi juga tim ini dengan sarana-sarana serta biaya yang dibutuhkan, hal-hal ini walaupun hanya sebagai penunjang namun ikut berperan dalam keberhasilan pelayanan, sarana tersebut seperti misalnya: izin dari pemerintah, penyebaran brosur, dan lain-lain.
c. Tentukan Sasaran Penginjilan
Sasaran Penginjilan itu harus diamati, dipelajari, sebaik-baik mungkin dengan carmatbagaimana kedua belas pengintai dalam tuga pengintai Kanaan. Sarana penginjilan yang telah ditetapkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terutama bagaimana keadaan daerahnya, dan bagaimana orang-orangnya kedua hal ini penting dianalisa sebelumnya agar kiranya telah ada gambaran tentang apa kira-kira hambatan yang akan dihadapi, dan bila hal ini telah diketahui terlebih dahulu maka tindakan pencegahan telah dapat dipersiapkan, bukankah juga Roh Kudus memberi hikmat bagi gereja-Nya.
1. Daerah Yang diinjili
Daerah yang akan diinjili perlu dipelajari bagaimana budayanya, adat serta kebiasaanya, pendidikannya, agamanya, faktor sosialnya, dan sebagainya ada daerah yang masih sangat tertutup terhadap pekebaran Injil dan ada yang terbuka untuk pekebaran Injil. 12.
2. Orang yang di Injili
Harus melihat orangnya bagaimana latar belakangnya orang itu apakah langsung dia terima atau tidak atau hatinya seperti tanah berbatu-batu atau hatinya seperti tanah yang subur (Matius 13:5-8). Tanah yang baik adalah berbicara tentang hati yang terbuka untuk penginjilan, jangan berdebat dengan orang-orang yang fanatik anti penginjilan, karena Injil itu bukan untuk diperdebatkan. Peter C. Wagner dalam bukunya Strategi Perkembangan Gereja mengatakan bahwa: “tiap-tiap orang yang kita injili haruslah didekati dengan kasih Kristiani agar ia tidak merasa kehormatan, integritas, maupun harga dirinya disepelehkan”13.
B. Pengembalaan Dengan Hikmat
Ini merupakan salah satu tombak pelayanan jemaat mula-mula, pengembalaan hikmat adalah untuk pembinaan lebih lanjut bagi jiwa-jiwa yang telah dimenangkan. Pengembalaan ini sejalan dengan apa yang telah di ungkapkan oleh raja Daud dalam Maz 23. Pengembalaan yang diterapkan jemaat mula-mula dengan apa yang diungkapkan oleh Raja Daut, maka terdapat tiga unsur penting dalam hal tersebut, yaitu: Pengajaran, Konseling, dan Persekutuan.
1. Apa itu Pengajaran
Dalam Mazmur 23:2-4, menyatakan bahwa, Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku, Beri makan rumput yang hijau dan beri minum air yang tenang, artinya bahwa memberi kepeda domba-domba, adalah yang baik dan bersih sehat, bergizi serta mengenyangkan dan memuaskan, jika rumput dan air yang diberikan kepada domba-domba tidak memenuhi maka domba bisa mengalami penyakit dan mati.
Demikian pula seorang gembala harus memberikan kepada jemaat itu harus memberikan firman Allah yang benar supaya jemaat bertumbuh sehat, jagalah baik-baik jangan sampai menerima pengajaran yang salah atau sesat. Dizaman jemaat mula-mula telah muncul berbagai pengajaran yang memutar balikan Firman Allah, kaum Saduki mengatakan pada waktu itu bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat, kaum Farisi mencampur adukkan Firman Allah dengan adat istiadat yang bertentangan firman Allah itu sendiri.
Zaman gereja masa kini, telah diingatkan oleh Tuhan Yesus bahwa akan muncul banyak guru palsu, nabi-nabi palsu (pendeta-pendeta palsu), sehingga munculkan pengajaran yang palsu yang memutar balikan kebenaran Firman Allah. (II Pet 3:16-18, I Tim 4:1, Gal 1:8-9), mereka memiliki berbagai motivasi, ada yang bermotivasi ingin mendapatkan pujian dan kedudukan, uang maupun sex, ini semuanya dari setan. Jika gereja tidak waspada maka akan banyak umat diseret oleh tipuan yang licik dari pengajar-pengajar sesat, gereja harus menekankan pentingnya pengajaran yang sebenarnya dan gereja harus memberi rumput dan air bersih sehat, dan bergizi serta mengenyangkan dan memuaskan kepada domba-dmba-Nya, hendaknya gereja senan tiasa memohon tuntutan Roh Kudus agar mampu mengatasi segala tipu daya setan khususnya melalui pengajaran sesat. Gereja harus mampu menguji segala perkara dengan berpedoman pada firman Allah karena diakhir zaman ini, pengajaran sesat lebih banyak lagi cara bekerja semakin hari semakin licik dan tidak kentara.
a. Manfaatkan Pengajaran
Pengajaran itu bagaikan ‘akar’ sebuah pohon, jikalau akar itu kuat dan baik maka baiklah pertumbuhan pohon itu sekalipun diserpa badai namun tetap kokoh berdiri, demikian pentingnya pengajaran firman Allah terhadap umaat Tuhan jika umat Tuhan berakar dalam imannya kepada Tuhan maka mereka tidak diombang-ambingkan berbagai pengajaran sesat.
b. Metode Pengajaran
Cara yang baik dalam memberikan pengajaran akan mendatangkan hasil yang baik, cara pengajaran adalah:
1. Siapkan pengajaran itu dalam Doa. Materi yang dipersiapkan dengan baik maka meyakinkan pendengar, digumulkan dalam doa agar diurapi oleh Roh Kudus
2. Ciptakan suasana yang menyenangkan. Jalin hubungan yang harmonis dan komunikatif, hindari suasana yang tegang karena hal ini akan melelahkan pikiran pendengar, singkirkan hal-hal yang mengganggu seperti; udarah panas, menguap, mengantuk dan sebagainya.
3. Perhatikan waktu yang pas. Memperhatikan situasi apakah pendengar masih bergairah mendengar atau tidak harus dapat memahami kapan memulai dan kapan berhenti.
Ada beberapa cara dalam memberikan pengajaran, dimana cara ini disesuaikan dengan keadaan dan kesempatan, cara itu diberi melalui:
a. Melalui Khotbah
Cara membeikan pengajaran dapat dilakukan dalam beberapa tempat yaitu: didalam gereja, di rumah jemaat seperti dalam kebaktian rumah tangga. Sebuah khotbah yang baik, memenuhi hal-hal seperti berikut : Akibab mampu menjawab kebutuhan umat, khotbah yang baik dan menarik akan memberi kesan yang baik kepada pendengar sehingga mereka selalu ingin menikmatinya lagi lagi, khotbah yang demikian maka membuat pengajaran itu menjadi mantap.
b. Melalui Pengajaran Alkitab
Pengajaran firman Allah dapat pula di berikan dengan cara pelajaran atau pemahaman Alkitab, dalam metode ini agar supaya bertumbuh dan berbuah dalam Kristus.
c. Melalui Pembacaan Alkitab
Cara ini dilakukan oleh setiap jemaat dirumah masing-masing secara harian, untuk itu telah diatur daftar dari setiap bacaan harian, dan ada baiknya kalau telah diberikan garis-garis besar dari konteks yang akan dibaca.
d. Melalui media rohani
Keistimewa ini antara lain adalah dapat dibaca ulang dan dapat menjangkau pembaca atau pendengar yang jauh, media rohani ini adalah seperti: Majalah, warta jemaat, brosur, radio TV, kaset, vidio, saat ini semakin hari semakin canggi maka hal-hal tersebut diatas ikut membantu suksesnya pelayanan gereja. Demikian berbagai metode dalam membeikan pengajaran yang yang sedang lakukan untuk kemajuan jemaat pada masa kini.
2. Persekutuan
Persekutuan yang baik sangat menopang pertumbuhan gereja, persekutuan dapat dirinci dalam hal manfaatnya, caranya dan artinya yaitu:
a. Manfaat Persekutuan
1. Terjalin hubungan akrap dan harmonis
2. Terjalin rasa persaudarahan
3. Terjalin persatuan dan kesatuan
b. Cara Persekutuan
Mazmur menyatakan, ‘diam duduk bersama dengan rukun’ Mazmur 133:1. Ini berarti cara membina persekutuan adalah dengan berkumpul ‘duduk’ bersama secararukun dimana hal ini dilakukan di gereja maupun di rumah, jadi domba itu dikumpulkan atau dipertemukan dikandang (gereja) jelas bahwa pembinaan persekutuan umaat Tuhan itu tidak hanya terbatas di gereja tetapi juga di rumah-rumah.
1. Bertemu akrab atau Rukun di Gereja
Jemaat mula-mula datang kegereja, selain untuk beribadah, juga untuk bertemu sesama jemaat gunana menjalin hubungan yang rukun sebagai saudra ndalam Kristus, mereka memberi wakt untuk hal itu, itu sebabnya setiap hari mereka berkumpul digereja (Kis 2:46). Kesulitan bagi gereja pada masa kini adalah, semua orang telah sibuk dengan pekerjaan masing-masin ataupun karena banyak acara lain yang menarik, umumnya hanya datang kegereja memberi waktu paspasan bahkan cenderung datang terlambat lalu sesudah itu pulang tanpa perduli dengan jemaat yang lain.
2. Bertemu akrap/rukun di Rumah
Gereja mula-mula juga membina persekutuan dengan cara saling kunjung dirumah masing-masing, kunjungan ini tentusangat bermanfaat untuk mereka saling lebih mengenal, kunjungan kerumah-rumah diatur denngan kegiatan seperti:
Pertama, Pecahkan roti, ini semacam ‘sharing’ yaitu membagi suka-suka masing-masing, dimana mereka saling mendengarkan dan membangun.
Kedua, Makan bersama, hal ini diatur secara bijaksana supaya tidak menjadi penghalang, biasanya dikaitkan dengan ulang tahun, dan sebagainya.
Ketiga, Puji Allah bersama, cara ini adalah mengadakan kebaktian rumah tangga yang dilayani oleh mereka sendiri sesuai karunia, jadi tidak harus dipimpim oleh pendeta.
c. Ciri persekutuan
Setiap persekutuan memiliki cirinya sendiri, persekutuan yang baik, berapa ciri dari persekutuan yang baik antara lain adalah:
1. Setiap pertemuan memiliki nilai rohani
2. Memiliki unsur saling tolong-menolong.
3. Tidak membicarakan kejelekan orang lain
4. Memuliakan Tuhan
5. Saling mendoakan
Ciri-ciri yang dalam suatu persekutuan hendaknya selalu kembangkan karena hal itu baik bagi pertumbuhan rohani jemaat, Tuahan senang dan hadir dalam setiap persekutuan yang baik, memiliki ciri seperti tersebut diatas. Lihatlah bagimana Allah telah memberkati persekutuan gereja mula-mula karena mereka memiliki persekutuan yang sesuai Firman-Nya. Bayangkan, mereka begitu gemar memuji Tuhan, rajin kegereja gemar berkorban, gemar berdoa, dan sebagainya.

C. Pengutusan Dengan Karunia
Gereja mula-mula diutus sesuai karunia masing-masing, sudah tentu pengutusan ini, tidaklah sekedar kehendak manusia melainkan mereka memohon petuntuk dan tuntutan Roh Kudus, (hampi semua Kis membuktikan hal ini).
1. Alasan Pengutusan
Gereja mula-mula tidaklah asal sekedar hadir didunia ini melaingkan mempunyai misi dari Allah. Ia diutus untuk mengabarkan kabar keselamatan bagi seisi dunia ini, setiap orang yang telah diselamatkan hendaklah memanfaatkan karunia yang telah dipercayakan oleh Allah kepadanya untuk melayani pekerjaan Tuhan, Allah berwewenan mengutus gereja karena Diayang memiliki gereja.
Adapun alasan pengutusan itu adalah atas kehendak Tuhan sendiri sebagai pemilik gereja, yaitu: Kehendak Allah Bapa, kehendak Yesus Kristus, dan kehendak Roh Kudus.
a. Kehendak Allah Bapa
Anugerah keselamatan yang telah diberikan oleh Bapa bukan hanyanya untuk satu orang atau orang tertentu saja, melaingkan untuk semua orang, suku, bangsa, dan bahasa. Kabar baik tentang anugerah Allah itu harus diberitakan diseluruh dunia, pernyataan kasih Bapa kepada semua manusia, diungkapkan oleh rasul Yohanes. Karena begitu besar kasih Allah akan didunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadan-Nya tidak binasa melaingkan berolah hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Sebagaimana Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi korbang bagi manusia, maka hendaknya pulagereja pergi mencari dan memenangkan jiwa, berbahagialah gereja yang telah menerima anugera keselamatan serta dipercayakan menjadi alatnya dalam menjalangkan misi yang suci dan mulia tidak ada pekerjaan yang paling mulia didunia ini selain melayani pekerjaan Allah yang kudus itu.
b. Kehendak Yesus Kristus
Penggorbanan Yesus membuat segala utang dosa kejahatan manusia dibayar lunas, tidak ada satupun manusia yang dapat membayar dosanya hal ini telah dibayar oleh darah-Nya sendiri, oleh karenan-Nya semua manusia yang telah diselamatkan, berutang jiwa pada Tuhan Yesus dan sekarang Tuhan Yesus memberikan amanat perintah-Nya kepada gereja-Nya maka ituhendak dipatuhi;
Karena itu pergilah, jadikanlah, semua bangsa murid dan baptiskanlah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu, dan ketahui, Aku menyertai kamu senang tiasa sampai akhirnya zaman, (Mat 28:19-20).
Inilah amanat Agung yang telah Tuhan Yesus percayakan kepada gereja-Nya, dalam pengutusan ini, gereja tidak perlu takut sebab Dia sendiri menyertai gerejanya sampai akhir zaman.
c. Kehendak Roh Kudus
Sebagai alasan lain dari, “keharusan” gereja untuk memberitakan Injil setelah dipenuhi oleh Roh Kodus yang menjadikan gereja sebagai saksi Kristus diseluruh dunia
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis 1:8).”
Inilah maksud dan tujuan utama Roh Kudus memenuhi dan mengurapi gereja-Nya yaitu agar menjadi saksi Kristus yang berani karena kuasa Roh Kudus menyertai, Gereja harus membongkar balikkan segala pekerjjaan iblis dan memutuskan segala rantai setan yang membelenggu manusia dengan dosa.
2. Cara Pengutusan
a. Evaluasi karunia yang ada dalamgereja, ada beberapa jenis karunia yang disebutkan didalam (Roma 12:6-8, I Kor 12:7-11), karunia-karunia itu adalah bernubuat, melayani, mengajar, menasehati, memimpin, berkemurahan, berkata-kata dengan hikmat, berkata-kata denagan pengetahuan memiliki iman, menyembuhkan, mengadakan mujizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh, berkata-kata dengan bahasa roh menafsirkan bahasa roh.
b. Kembangkan Pelayanan sebanyak banyaknya
Hal ini dimaksudkan agar seluruh “Tubuh Kristus” mendapatkan tempat untuk menyalurkan karunia sehingga berfungsi dalam pelayanan gereja, bebepa concoh untuk mengembangkan pelayanan seperti dibawa ini:
1. Pelayanan admistrasi gereja, terdiri atas: Kordinator (Sekretariat gereja ) anggorta 2 orang (tergantun kebutuhan)
2. Pelayanan keuangan dan pengadaan sarana kordinator (bendahara gereja) anggota pemungut persembahan, 3 orang anggota penghitung persembahan 3 orang
3. Pelayanan acara kebaktian minggu kordinator (tua-tua sedang, 2 orang). Tugas kordinar adalah mengatur orang-orang yang akan bertugas pada setiap kebaktian minggu, seperti memimpin pujian, memimpin doa pembukaan doa sebelum firman.
4. Pelayanan kebaktian kaum muda kordinator (ketua kaum muda) tugas kordinator adalah mengatur orang-orang yang dilibatkan dalam kegiatan setiap kebaktian seperti memimpin pujian, memimpin doa, menyimpang uang kas kaum muda.
Demikian seterusnya, hal yang sama dapat diterapkan juga pada pelayanan kaum wanita, kaum pria, sekolah minggu, pelayanan kebaktian rayon, rumah tangga, dan sebagainya.
c. Motivasi Warga Gereja untuk melayani
Motivasi mempunyai kekaitan erat dengan kebutuhan manusia, apa bila tugas yang diberikan itu berkaitan dengan pemenuhan kebutuhanya, maka ia akan termotivasi untuk mensukseskan tugas itu, Ada 3 jenis motivasi yang dapat disimak dari Alkitab, yaitudalam konteks tentang: “hamba”, ketiga jenis hamba itu adalah:
d. Hamba karena paksa, contoh: para tawanan perang, jika mereka disuruh mengerjakan suatu pekerjaan, tentu mereka akan melakukannya tetapi karena terpaksa jadi motivasi paksa.
e. Hamba karena upah, contoh: pembantu rumah tangga, karyawan, mereka melakukan pekerjaan itu karena adanya upah (berkat), jadi motivasi upah.
f. Hamba karena kasih, (Lukas 17:7-10), dalam bahasa Yunani disebut Doulos dizaman perjanjian lama, telinga mereka ditindik sebagai tanda mereka menghambahkan dirinya semata-mata karena mengasihi, mereka tidak menuntut bayaran, bahkan seandainya mau dibunuh oleh majikan sekalipun maka mereka tidak menuntut jadi mereka bekerja karena mengasihi tuanya, ini namanya mitivasi kasih. Dari ketika jenis motivasi tersebut diatas maka pemimpin gereja hendaknya mengatur tugas-pelayanan sedemikian rupa agar jemaat termotivasi untuk mensukseskan pelayanan yang dipercayakan kepadannya, dari semua motivasi yang ada maka yang baik dan benar adalah motivasi kasih, Tuhan Yesus berkata: ”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh 14:15). Dalam firman Tuhan, setiap motivasi mempunyai nilai tersendiri dan tentu Tuhan tahu motivasi apa yang melatarbelakangi pelayanan itu jika menghubungkan ”nilai” motivasi itu dengan firman-Nya, (II Tim 2:20-21).
Dari urutan nilai maka yang paling tinggi adalah dimulai dari emas, perak, kayu, tanah. Jadi emas merupakan nilai yang paling tinggi, bagaimana nilai dari motivasi sih si pelayan itu, tentu ia sendiri yang tahu dengan Tuhan yang pasti Alkitab katakan bahwa apapun yang dilakukan hendaklah didasari karena kasih, sebab jika tidak demikian maka akan sia-sia (I Kor 13:1-3). Roh Kudus selalu menolong gereja-Nya untuk melayani dengan kasih, kasih memang mudah diucapkan tetapi tak semudah itu melakukannya, namun bagaimanapun juga halini merupakan ”tuntutan” Tuhan karena Ia sendiri lebih dulu telah mengasihi sampai mengorbangkan diri-Nya.
3. Keuntungan Pengutusan
Apa bila karunia-karunia semua warga gereja dikorbangkan dan difungsikan dalam pelayanan gereja maka dngan sendirinya ada beberapa keuntungan yang di peroleh, antara lain adalah:
a. Gereja semakin bertumbuh
Semakin banyak orang yang melayani semakin banyak hasil yang diperoleh pekerjaan 1 orang dibandingkan dengan pekerjaan 1 tim, tentu berbeda, doa orang banyak tentu lebih mantap di bandingkan doa 1 orang yang sama-sama memiliki iman serta sesuai kehendak-Nya.
b. Warga Gereja semakin terlati bisa karena bisa membuat mereka semakin terlatih trampil dan kuat, karena ibarat tubuh yang sehat dan aktif karena, selalu dilati
c. Oposisi Teremdam
Adanya jemaat yang kreatif, dapat disalurkan, seringhal ini menjadi masalah dalam gereja karena gereja tidak memberikan kesempatan serta penyaluran bagijemaat yang kreatif serta suka melayani, berbahagialah gereja yang telah di utus oleh Tuhan, yang menaktifkan karunia-karunia umaat dimana mereka diutus untuk melayani, baik di gereja sendiri maupun membuka gereja-gereja baru ditempat lain.




ABAB VI
HAMBATAN BAGI JEMAAT MULA-MULA


Perjalanan hdiup gereja mula-mula dalam kehidupannya,
tidak terlepas dari berbagai-bagai dari hambatan. Hal ini tidak mengherankan karena gereja itu hadir di zaman yang sudah kehilangan nalai-nilai luhurnya, moralitas telah sedemikian jauh merosot, kejahatan semakin bertambah-tambah. Gereja mula-mula bagaikan lahir diantara “serigala” (bd. Mat 10 : 16).

Hambatan demi hambatan telah dialami oleh gereja mula-mula, hambatan-hambatan itu telah menerpanya baik dari dalammampun dari luar. Dari dalam yaitu jusrtu dari “orang-orang agama” dan dari luar yaitu mereka bangsa kafir. Namun ia tetap berjaya kare Tuhan selalu mengertainya.

Hal yang menjadi pelajarang bagigereja masa kini bahwa sekalipun gereja mula-mula terus mengalami hambatan namun mereka tidak patah semangat, dan tidak takut, malahan justru semakin menggebu-gebu dalam semagatuntuk melayani. Dan kenyataannya dengan caramereka yang justru semakin giat serta berani melayani pekerjaan Tuahan, makah Tuhan membuktikan kehadiri-Nya dengan berbagai mujizat dan tanda.

Teladan yang dibuktikan oleh gereja mula-mula bahwa asalkan hamba-hamba Tuhan mau selalu berserah pada Tuhan dan melayani sesuai kehendak-Nya, maka apapun hambatan dan tantagan yang dialami, tidak perlu takut sebab Tuhan beserta senantiasa sampai akhirzaman .

A. Hambatan Fisik.

Hambatan fisik ini datang dari “kalagan agama”, di nama mereka merupakan orang-orang terhomat serta memiliki kekuasaan pada waktu itu. Anenya mereka sangat membeci murid Tuhan. Murid-murid dikejar-kejar, ditangkap, dianiaya, di penjarakan, bahkan Stephanus harus mati sahid akibat kekejaman mereka melalui leparabatu (bd KR. 7 : 54-60, 8 : 1-3).

Jika menamati hambatan fisik initernyata hal itu di sebabkan oleh karena iri hati dantakut bahwa kedudukan mereka terancam. Kalangan agama ini pada waktu itu sudah terbiasa di hormati dan memiliki kekuasaan. Mereka telah menjadikan para pemgikut agama waktu itu sebagai pengikut bagi kepentingannya sendiri. Makakarenamudid-murid datang merombak cara-cara ibadah mereka yang tidak benar,mereka kemudian merasa terancam kedudukannya. Itu sebabnya mereka melolak kehadiran Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya, dan berusaha dengan segala daya untuk menghilangkannya. Jadi ini semua karena iri hati dan takut kedudukan mereka akan hilang (bd. KR. 5 : 17-18).

Jika murrid-murid Tuhan dibenci maka hal itu tidak usah heran. Demikian juga sampaisaat ini bagi gereja masa kini supayahal ini tidak usa bern, sebab seorang murid tidak akan melebihigurunya. Tuhan Yesus berkata: “Jika kalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahuluh menbenci aku dari pada kamu” (Yoh. 15 : 18).

Ada berapasumber yang menjadi hambatan fisik terhadap gereja mila-mula, yaitu:

1. Iman Besar / Iman Kepala.

Ia memiliki wewenang dan kekuasaan yang besar pada waktu itu. Demikian juga dengan pengaruhyaterhadap masyarakat besar. Ia dapat menguru orang-orang untuk melakukan kemauannya, dan orang-orang pauh kepadanya.

Dengan wewenang dan kekuasaanya yang besar itu, ia sering memberikan perintah dengan surat kuasa untuk mengejar-gejar, menangkap dan menganiaya sertan memasukn murid-murid Tuhan kedalam penjara (bd. KR. 9 : 1 , 14).

2. Pengawai / Penjaga Bait Allah.

Mereka merupakan “alat” yang sering dipakai oleh Iman besar untuk melakukan kemauannya. Mereka sangat patuh padaperuntah Imam Besar. Merekalah yang sering menangkap dan jaga menganiaya muid-murid Tuhan.

3. Ahli Taurat /Farisi.

Mereka adalah pengajar dan penafsir Perjanjian lama, khususnya kelima kitab musa. Itu sebabnya mereka juga di sebut sebagai rabi atau guru. Mereka sangat berpengaruh, dan berpegang pada “adat-istiadat nenek moyang” (bd. Mat 15 : 2), dan seluruh hukum serta peraturan Taurat, mereka taati secara mutlak. Golongan ini juga suka dipuji atau “gila hormat”, dan suka berdoa panjang-panjang, serta suka membodohi milik para janda (bd. Mark 12 : 38-40, Lk 20 : 45-47).

Merekajuga sering mencobai Tuhan Yesusdan berusaha untuk mempersalakan-Nya (bd. Mat 22 : 35, Lk 6:7, 10 :25).

4. Pemimpin Yahudi.

Suat golongan pemimpin agam Yahudi, yag sebagian besar terdiri dari imam-imam. Mereka mendasarkan pengajarannya pada kelima kitab Musa dan menolak segala adat istiadat. Juga mereka tidak percaya adanya kebangkitan dan adanya malaikat. Mereka sering ikut menentang gereja mula-mula atas pengaruh dan anjuran Imam Besar.

Rangkuman.
Hambatan-hambatan yang dialami oleh gereja mula-mula, jika diterapkan pada gereja masa kini, msks terdapat persamaan seperti berikut :

Gereja mula-mula. Gereja masa kini.
Imam besar / Kepala - Pemimpin gereja

Pegawai / Penjaga - Organisasi
Bait Allah

Ahli Taurat / Farisi - Adat istiadat / Tradisi

Pemimpin / Yahudi - Penguasa

Apa yang telah dialamikan oleh gereja mula-mula tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh gereja masa kani, hanya saja dalam konteks yang berbeda. Sekalipun ia hambat, namun ia terus merambat maju karena Tuhan selalu beserta. Sebagai mana telah di kemukakan bahwa gereja masa kini mengalami hambatan, dan hambatan itu bersumber dari :

a. Hambatan oleh pemimpin gereja .

Sering gerejatidak berpungsi sebagai mana mestiya gereja misioner, karena adanya hambatan dari si pemimpin gereja itu sendiri. Bahaya disini terjadi apabila pemimpin telah kehilangan motivasi dan visi yang benar.
Bila pemimpin gereja telah kehilngan motivasi dan visi yang benar sesuai kehendak Tuhan, maka ia akan menjadikangereja itu sebagai “perusahaan keluarga”, semata-mata untuk memenuhi kepentingan keluarganya.

b. Hambatan oleh organisasi.
Organisasi itu baik dan di perlukan didunia ini sebagai keabsahan hukum untuk
Mengadakan perkumpulan. Juga berfungsi untuk melokalisir identitas penganjaran. Misalkan organisasi Gereja pantekosta di Indonesia. Sebagai suatu organisasi maka sudah tentu mempunyai ciri khas terhadap prinsip pengajaran dan tatanan gereja. Dengan mengenal organisasi gereja itu, maka umumnya orang dapat mengerti ciri khas pengajarannya.

Namun apabila organisasi telah menjadi suatu hal yang dibanggakan”, hal itu akan menghambat pelayanan gereja untuk menjadi gereja yag misioner. Karena organisasi telah dikultus individukan maka yang terjadi,bukannya kerja sama antar gereja tetapi saling curiga dan persaingan yang tidak sehat. Juga hambatan berikutnya adalah organisasi dapat menghambat gereja untuk melakukan tugas pelyanannya karenna telah “terikat dengan dan kakinya” oleh organisasidengan berbagaiperaturan yang aku dan borokratis.

c Hambatab oleh adat-istiadat.
Tidak dapat disangkal bahwa pelayanan gereja sering terlambat oleh karena
faktor adat-istiadat. Hal ini merupakan hambatan berat karena menyangkut kejuwaan. Merobah sesuatu yang telah membudaya adalah suatu pekerjaan yang sukar.

Meman ada adat-istiadat yang baik serta tidak bertentangan dengan firman allah. Yang jadi masalah ialah kalau hal itu bertentangan dengan firman-Nya. Di daerahyang fanatik adat-istiadatnya, harus di akui bahwa agak sukar diinjili.

d. Hambatan oleh penguasa.

Suatu lagi kenyataan akan adanya hambatan terhadap gereja masa kini yaitu terkadang mengalami hambatan dari penguasan tempat yang tidak setuju deengan pelayanan gereja. Sudah tentu karena penguasa itu memilikikuasaan dan wewenang maka dapat saja ia menghambat gerak maju pelayanan gereja. Terjadi kesulitan dalam mendapatkan izin mendirikan tempat ibadah, dan hal-hal yang berkaitang dengan kepentingaan gereja dalam pelayanannya.

Namun syukurlah kepada Tuhan karena Dia selalu menolong. Sebagai warga negara Republik Indinesia, kita bersyukur kerena pemerintah dan rakyat indonesia mengangungkan Tuhan memberi kesempatan bagi pelayanan rohani, termasuk pelayanan gereja.

B . Hambatan Rohani.

Hambatan yang tidak dimaksud di sini adalah menyangkat mental. Jika kita mempunyai mental sikap mental yang baik menuruti hukum-hukum Tuhan maka hambatan ini selalu teratasi.

Hambatan ini telah ada sejak dari manusia pertama, dan terus melanda gereja mula-mula sampai kepada gereja masa kini. Adapun hambatan ini bersumber dari:
1 . Iblis dan antek-anteknya.

Sejak dulu ia telah berusaha menjatukan manusia. Ia bagaikan “binatang buas” yang selalu mengintai domba-dombayang lengah untuk di terkamnya .

Iblis dan antek-anteknya yaitu setan-setan / roh-roh jahat terus berusaha menghancurkan kecucian gereja. Ia sember dari segala dosa dan kejahatan, serta mala petaka manusia. Ia tidak perna bermaksud untuk merancang hal-hal yang baik. Semua pekerjaannya adalah jahat semata-mata. Seandainya ada “kebaikan” maka itu semata-mata hanya sebagai umpan tipuan.
Waspadalah terhadap segala tipu daya Iblis. Cara menhadapinya adalah: “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yakubus 4:7).

2 . Kaum penyesat .

Peraktek-perakte serta tingkah laku kaum penyesat di zaman gereja mula-mula, telah aktif beroperasi. Merekalah yang disebut guru-guru palsu, nabi palsu, dan sebagainya mereka berusahamenghambat, mengacaukan serta menyesatkan.

Kini di zaman gereja masa kinipun, peraktek-peraktek kaum penyesat ini pun terus berlangsung. Masih sehar dalam ingatan kita kaum penyesat yang menamakan “saksi-saksi Yehova”, Children of God” (sekarang telah mengganti namanya jadi family of love). Mereka begitu gencar pengesatkan umat.

Uari waktu ke waktu kaum penyesat ini beroperasi semakin harus kerjanya tetapi tetap licik .sekarang ini, sejala dengan berkembangnya persekutuan-persekutuan, maka mereka juga ikut memanfaatkan momentum ini. Sehingga adanya persekutuan yang baik, telah dirugikan oleh ulah mereka. Merekaa juga menbentuk persekutuan dengan kedok “oikumene” atau “non organisasi gereja”, dengan maksud untuk dapat menjaring jiwa sebanyak-banyaknya dari berbagai gereja. Anehnya, mereka justru umumnya “mencari jiwa didalam gereja”. Mereka mempengarihi dengan dalih bahwa pengajaran mereka lebih tinggi / dalam sedangkan digereja katanya khotbah pendeta tidak mengenyangkan, dan mereka juga menpengaruhi dengan menawarkan jabatan dalam persekutuan mereka. Bagi jemaat yang senang “mencari” jabatan dalam gereja, amat mudah terpengaruh.

Rasul paul berkata agar kita menguji segala perkara, karena akan ada orang-orang yang menkomersilkan injil (bd. 1 Tim 6 : 5), dan juga seperti berikut :

Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan kelinginan telinganya. ( II Tim 4 : 3 )

Sebagai gereja Tuhan, handaknya selalu siap sedia untukberani menyatakan apa yang benar dan apa yang alah.

3 . Orang Kristen duniawi.

Golongan ini adalah orang-orag yang sudah percaya pada Tuahan Yesus, tetapi belum
bertobat (bd. I kor 3 : 1- 3). Merekattidak bertumbuh untuk menjadi dewasa rohani sehingga walaupun telah menjadi kristen tetapi perbuatan mereka tidak menunjukkan suatu kesaksian yang baik.

Akibat sikap hidup golongan ini, sudah tentu mendatangkan pengaruh yang tidak baik dalam pelyanan gereja. Maka sudah tentu perbuatan mereka ikut menghambat pelayanan gereja. Dampak negatif kedalam gereja adalah dapat membuat jemaat yang lain menjadi lemah rohani, terutama bagi jiwa baru sedangkan dampak negatif keluar, adalah orang-orang yang belum dimenangkan menjadi kehilaangan simpati terhadap gereja akibat ulang mereka.
Golongan ini tidak ubahnya seperti “bangsa kacauan” di zama musa memimpin bangsa Israel. Mereka mengebabkan umatTuhan menjadi lemah imam waktu itu. Memang apabila seseorang yang sudah percaya Tuahan tetapi tidak bertobat, maka ia bagaikan rumah yang roboh, dimana kerobohan itu besar akibatnya. Mereka juga bagaikan hama yang merusak dari dalam


C . Hambatan teruji

Hambatan ini merupakan suatu bentuk pengujian iman bagi umat-Nya. Bentuk hambatan ini juga dialami oleh gereja mula-mula. Melalui hambatan ini akan nampak kesungguan hati dari mereka yang mengiring Tuhan. Bagi mereka yang mendengar firman Tuhan lalu melakukannya maka ia bagaikan mendirikan rumah diatas batu. Walaupun banjir dan angin melanda rumah itu, tetap rumah itutidak rubuh sebab didirikan diatas batu. Sebaliknya bagi mereka yang mendengar firman Tuhan tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh yang mendirikan rumahnya diatas pasir, sehingga apabila banjir dan angi melanda rumah itu, maka rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya (bd. Matius 7 : 24-27)

Rangkuman.

Menyimak akan keberaadaan gereja mula-mula yang tidak terlepas dari berbagai hambatan, maka hal inijuga menjadi suatu kenyataan yang berlaku bagi gereja masa kini. Namun ia senantiasa menyertai gereja-Nya.
Bagi umat yang sungguh-sungguh melakukan firman-Nya, maka mereka menjadi kuat. Sebaliknya bagi mereka yang tidak melakukan firman-Nya, maka mereka akan kalah karena dasarnya sangat rapuh. Gereja pasti di landa degan berbagai hambatan namun syukur karena Dia senaniasa beserta.
Gereja diuji dalam 3hal yaitu kesusahan dan penderitaan, masa kelimpahan berkat, dan pengajaran yang menyesatkan. Ketika hal tersebut menjadi kenyataan melanda gereja, baik dizaman gereja mula-mula maupun zaman gereja masa kini. Oleh sebab itu gereja kehendaknya selalu waspada cepat tanggapmengantisipasi segala tipu daya Iblis, dengan cara selalu berserah pada Tuhan yaitu hidup menurut firman-Nya dan senantiasa berdoa.










BAB VII
KESIMPULAN

Gereja mula-mula.
Gereja mula-mula didalam seluruh gerak dan kehidupannya telah membaktikan dirinya sebagai gereja misioner. Ia memiliki panggilan yang benar dan diutus oleh Allah yang punya gereja. Ia memiliki dasar pelayanan yang Alkitabiah, denga strategi yang tepat dan sesuai dengan kehendak Allah. Strateginya semata-mata untuk memenangkan jiwa bagi kegerejaan Allah dan memberikan kemulian hanya bagi Allah.
Sebagai bukti dari pelayanan yang benar maka gereja mula-mula telah berhasil dalam pertumbuhannya, setiap hari Allah menamba jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan Kis 2:42.
A. Saran
Atas dasar dari kenyataan tersebut diatas maka gereja mula-mula adalah tepat untuk diamati, dipelajari dan menjadikannya sebagai pola dasar dalam pelayanan gereja masa kini, untuk membangun gereja. Gereja masa kini hendaknya mengambil teladan kepeda gereja mula-mula jika ingin berhasil dalam pelayanan.
Gereja sebagai pemegang kunci kerajaan sorga, mempunyai tangung jawab untuk melaksanakan amanat Agung Yesus Kristus, demi menjadikan sekalian bangsa sebagai murid Kristus, dalam hal ini sesungguhnya gereja tidak melayani sendiri melainkan Allah Allah menyertainya sampai akhir zaman.


B. Rekomendasi
Karya tulis ini secara umum ditujukan untuk semua yang mengasihi pekerjaan-Nya, yaitu pelayan-pelayan Tuhan dan memiliki kerinduan bagi kemajuan gereja Tuhan.
Secara Khusus, Karya ini semoga dapat memanfaatkan bagi rekan-rekan sepelayanan dalam jajaran gereja Kemah Injil KINGMI di Tanah Papua.

Tuhan Yesus Memberkati Amin






V I T A

Tatogo Oktovianus dilahirkan di desa Ekauwiya Papua pada tanggal 28 Oktober 1978, terlahir sebagai anak ketiga dari Musa delapan bersaudara Pdt. Mesak Tatogo (ayah), dan Marta Kayame (ibu), ibu dipanggil Tuhan sewaktu saya SD kelas III. Penulis tamat Sekolah Dasar Yayasan YPPGI Dapugaida Papua tahun 1996, Sekolah Teologi Tingkat Pertama Mikkelson Kebo tahun 1999, dan Sekolah Menengah Atas Semaring tahun 1996. Oleh anugrah Tuhan penulis melanjutkan pendidikan teologi di Institut Filsafat Theologi dan Kepemimpinan Jaffary Jakarta pada Fakultas Teologi program Stratum Satu, jurusan pastoral, bidang studi penggembalaan jemaat tahun 1997 dan selesai tahun 2003.

PENGALAMAN PELAYANAN

Tahun 1998 Setelah saya selesai dari Sekolah Teologi Pertama (STP) sederajat dengan SMP Kebo Papua saya membuka Gereja Pos P I daerah terasing terabaikan dalam dua tahun, kemudian dari ketua Klasis memberikan Recomendasi kepada saya untuk melanjutkan Sekolah Teologi Atas (STA) sederajat SMU di Timika Papua, tahun 1999 saya diangkat menjadi anggota Penginjilan untuk menjangkau daerah-daerah terasing atau terabaikan di sekitar Timika dalam 2 tahun, dan tahun 2002 Ketua Pekabaran Injil Gereja Kemah Injil (Kingmi) Papua dan Ketua Klasis Gereja Kemah Injil Kingmi Papua memberikan Recomendasi untuk melanjutkan kuliah di Institut Filsafat Theologi dan Kepemimpinan Jaffrai Jakarta, karena Papua membutuhkan orang yang berkualitas bermoral tinggi untuk memimpin dalam hal Pekabaran Injil (PI). Tahun 2005 dari Akademik mengutus Penelitian Kerja Lapangan (PKL) N0. SK 256/KEM-IFTKJJ/JKT/2005. Di Kalimantan Barat daerah Sintang, dan pelayanan disana selama 1 tahun, dan sambil PKL saya mampu membangun Gereja di kampung Riam Kijang disana. Dan sekarang saya melanjutkan kuliah sambil menulis Skripsi dan target selesai tahun 2008.

I. VISI DAN MISI KEDEPAN

A. Visi : Setelah selesai study atau kuliah di Institut Filsafat Theologi dan Kepemimpinan Jaffray Jakarta (IFTKJJ) mau menjadi pemimpin (Pembinaan Rohani) yang berprofesional untuk membangun daerah Papua Pedalamanmaupun kota.
B. Misi : Menjangkau jiwa-jiwa yang tersesat atau terhilang dalam dosa, dan memenangkan jiwa bagi Kristus.
C. Sasaran : Daerah Papua pada Umumnya



Pengalaman Pelayanan

1. Tahun 1998 terlibat dalam pelayanan di Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Bumi Bekasi Baru, dengan bidang pelayanan Sekolah Minggu (SM), dan Pemuda Remaja sampai tahun 2000.
2. Sejak tahun 1999 sampai tahun 2000 bergabung dengan Yayasan Pekabaran Injil Indonesia dalam pelayanan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) di Jakarta antara lain LP Cipinang, dan LP Tangerang.
3. Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dari tanggal 1 Juli 2001 sampai pada tanggal 31 Juli 2002, di Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Emaus Batu Buil Kalimantan Barat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar